Insentif EV Lebih Menguntungkan Baterai Nikel, Peta Pasarnya Justru Dikuasai Eropa-Korea

Daftar mobil listrik berbaterai nikel di Indonesia ternyata tidak didominasi merek China. Justru, deretan model yang memakai baterai ini banyak datang dari pabrikan Eropa dan Korea Selatan, dengan beberapa nama Jepang juga ikut mengisi daftar.

Peta itu menjadi menarik karena pemerintah sedang menyiapkan insentif yang memberi perlakuan lebih besar untuk mobil listrik berbaterai nikel dibandingkan model nonnikel. Skema yang disiapkan berupa diskon PPN DTP, dan arah kebijakannya menunjukkan baterai nikel akan mendapat dorongan lebih kuat di pasar domestik.

Yang dimaksud baterai nikel umumnya adalah Nickel Manganese Cobalt atau NMC. Jenis baterai ini punya kepadatan energi lebih tinggi dibanding Lithium Iron Phosphate atau LFP, sehingga jarak tempuh bisa lebih jauh dengan ukuran baterai yang lebih ringkas.

Karakter itu membuat NMC cocok untuk mobil yang mengejar jarak tempuh dan sering dipakai di segmen premium. Namun, biaya produksinya lebih mahal dan prosesnya lebih kompleks, sehingga pemakaiannya belum semasif LFP.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengungkap rencana insentif untuk 100 ribu mobil listrik mulai Juni 2026. Dalam skema tersebut, mobil listrik berbaterai nikel bisa mendapat diskon PPN 100 persen, sedangkan mobil listrik nonnikel mendapat diskon mulai 40 persen.

Deretan model dari Eropa dan Korea menonjol

BMW menjadi salah satu merek dengan daftar panjang mobil listrik berbaterai NMC di Indonesia. Model yang tercatat meliputi i4 eDrive35, i5 eDrive40, i5 M60, i5 eDrive40 Touring, iX1 eDrive20, iX xDrive45, iX xDrive40, iX xDrive50, serta i7 xDrive60 Gran Lusso dan xDrive60 Gran Lusso two tone.

Hyundai juga tampil kuat lewat Ioniq 5 dan Kona. Pada Ioniq 5, varian yang memakai baterai nikel meliputi N, Batik, Prime (SR), Prime (LR), Signature (SR), dan Signature (LR), sementara Ioniq 6 hadir dalam varian Signature.

Untuk Kona, Hyundai menawarkan N, Style (SR), Prime (SR), Prime (LR), Signature (SR), dan Signature (LR). Banyaknya varian ini menunjukkan baterai NMC tidak hanya hadir pada mobil impor utuh, tetapi juga pada model yang sudah akrab di pasar Indonesia.

Kia ikut masuk lewat EV6 varian GT dan GT Line, serta EV9 varian GT Line dan Earth. Kehadiran model-model ini memperkuat posisi merek Korea Selatan dalam daftar EV berbaterai nikel yang tersedia di pasar domestik.

Segmen premium masih jadi rumah utama NMC

Mercedes-Benz membawa cukup banyak model berbaterai nikel ke Indonesia. Daftarnya mencakup EQB 250+ Progressive Line, EQE 350+ Electric Art Line dan 350 4Matic, serta EQS 450+ Electric Art Line, 450+ AMG Line, 450+ Edition One, dan 450 4Matic AMG Line.

Pabrikan asal Jerman itu juga memasukkan G 580 with EQ Technology dan Maybach EQS 680. Kehadiran model-model tersebut menegaskan bahwa NMC masih sangat kuat di kelas atas karena karakter baterainya mendukung jarak tempuh yang lebih jauh.

Mini juga tercatat memiliki beberapa model dengan baterai nikel. Varian yang masuk daftar meliputi Electric, Cooper SE, Cooper John Cooper Works Electric, Countryman SE All4, dan Aceman SE.

Volvo pun ikut membawa EX30 Plus dan Ultra, serta EX40 dan EC40. Di sisi lain, MG mencantumkan Cyberster dan 4 Max, sementara Xpeng hadir melalui X9 LR Pro Plus.

Dampak insentif ke pasar EV

Rangkaian model yang beredar itu memperlihatkan bahwa mobil listrik berbaterai nikel di Indonesia tersebar di banyak merek non-China. Sebagian besar berasal dari pabrikan Eropa, Korea Selatan, dan Jepang yang selama ini kuat di segmen menengah atas dan premium.

Dengan insentif yang disiapkan pemerintah, posisi mobil listrik berbaterai nikel berpotensi makin menonjol. Situasi ini juga menunjukkan bagaimana kebijakan fiskal bisa mendorong teknologi baterai yang materialnya melimpah di dalam negeri, sekaligus memberi sinyal arah pasar EV ke depan.

Source: www.cnnindonesia.com

Baca Juga

Back to top button