Inflasi AS Mengejutkan Pasar, Rupiah Justru Kembali Menguat Ke Rp17.476

Pelemahan dolar Amerika Serikat mulai terlihat setelah pasar melakukan aksi ambil untung usai lonjakan tajam yang dipicu data inflasi AS. Kondisi itu memberi ruang bagi rupiah untuk bangkit dan menutup perdagangan di level Rp17.476 per dolar AS, lebih kuat dari posisi sebelumnya di Rp17.529 per dolar AS.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar valuta asing masih sangat mudah berubah ketika data ekonomi penting dari Amerika Serikat dirilis. Investor pun belum sepenuhnya lepas dari sikap hati-hati karena masih menunggu arah kebijakan bank sentral AS dan mencermati situasi geopolitik global yang belum mereda.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai penguatan rupiah terutama berasal dari realisasi keuntungan pada dolar AS. Menurut dia, mata uang Negeri Paman Sam sempat menguat signifikan setelah inflasi AS muncul lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Data terbaru memperlihatkan inflasi tahunan AS pada April 2026 berada di 3,8 persen. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023 dan sedikit melampaui ekspektasi pasar yang sebesar 3,7 persen, sementara inflasi Maret 2026 tercatat 3,3 persen.

Lonjakan inflasi tersebut sempat mendorong dolar AS naik lebih tinggi. Namun, setelah euforia awal mereda, sebagian pelaku pasar memilih melepas posisi dan mengunci keuntungan, sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut berkurang.

Pasar menunggu petunjuk berikutnya dari AS

Meski rupiah berhasil menguat, pasar belum menganggap situasi sudah benar-benar stabil. Perhatian investor kini mengarah pada rilis data Producer Price Index AS yang dinilai dapat memberi petunjuk tambahan mengenai arah inflasi berikutnya.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Hasil pertemuan tersebut dipandang berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan global bila muncul sinyal baru soal hubungan kedua negara.

Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut membuat investor lebih selektif dalam menata ulang portofolio. Situasi ini memberi peluang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak lebih tenang, meski sentimen global masih rapuh.

Dukungan dari dalam negeri masih menjaga rupiah

Dari sisi domestik, rupiah masih ditopang ekspektasi terhadap langkah Bank Indonesia. Bank sentral diperkirakan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar lewat intervensi di pasar valuta asing dan obligasi.

Ada pula spekulasi bahwa BI berpotensi menyesuaikan suku bunga untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Langkah semacam itu dinilai penting untuk menahan potensi arus keluar modal asing di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Sentimen positif lain datang dari upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Fokusnya mencakup likuiditas dan kestabilan pasar surat utang agar tekanan eksternal tidak langsung menular ke pasar domestik.

Di pasar antarbank, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia juga ikut menguat ke Rp17.496 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.514 per dolar AS. Pergerakan ini menegaskan bahwa rupiah masih mendapat dukungan, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya hilang.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button