Indonesia sedang menyiapkan fondasi baru untuk ekonomi digital yang lebih terbuka melalui penjajakan Indonesia Open Network atau ION. Gagasan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada segelintir platform besar dan memberi ruang yang lebih adil bagi pelaku usaha dari berbagai skala.
Pendekatan tersebut menempatkan infrastruktur digital sebagai fasilitas publik yang bisa dipakai banyak pihak. Dengan model seperti itu, akses bisnis digital diharapkan tidak lagi terkunci pada sistem yang tertutup dan berjalan sendiri-sendiri.
Dorongan ke arah jaringan yang lebih terbuka
Pembahasan ION mengemuka dalam pertemuan yang melibatkan CEO Danantara Rosan Roeslani, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, dan Sachin V Gopalan dari Steering Committee ION. Dalam forum itu, konsep Digital Public Infrastructure atau DPI terbuka dimatangkan sebagai fondasi baru bagi ekosistem digital.
Fokus utamanya adalah mencari pola yang dapat menekan biaya operasional dan membuat transaksi lebih efisien. Di saat yang sama, jaringan bersama ini diposisikan sebagai jawaban atas ekosistem digital yang dinilai terlalu kaku dan kurang memberi ruang kolaborasi.
Belajar dari model yang sudah berjalan di India
ION dibangun dengan meniru pendekatan DPI yang sudah berhasil diterapkan di sejumlah negara, terutama India. Dalam model tersebut, identitas digital nasional dan gerbang pembayaran instan massal menjadi bagian penting dari layanan yang dapat dimanfaatkan banyak pihak.
Indonesia ingin mengambil formula yang sama, lalu menyesuaikannya dengan karakter pasar domestik. Cara ini dipandang lebih relevan dibanding membiarkan infrastruktur digital berkembang secara tertutup dan terpisah-pisah.
Rosan Roeslani menilai Indonesia sedang berada di fase penting menuju transformasi digital generasi berikutnya. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari banyaknya adopsi aplikasi atau perangkat baru.
Ukuran lainnya adalah seberapa merata dampak ekonominya dirasakan masyarakat. Dalam kerangka itu, ION diposisikan bukan hanya sebagai proyek modernisasi, tetapi juga sebagai upaya agar manfaat ekonomi digital tidak berhenti di pemain besar.
UMKM menjadi sasaran yang paling diharapkan terbantu
Pasar digital Indonesia memang termasuk salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Namun, pertumbuhan transaksi daring tidak otomatis membuka jalan yang mudah bagi UMKM karena banyak pelaku usaha masih terbebani komisi platform yang tinggi.
Di luar soal biaya, modal dan literasi teknologi juga masih menjadi hambatan besar bagi pengusaha lokal. Karena itu, model jaringan terbuka seperti ION dinilai dapat membantu lewat infrastruktur yang siap pakai dan tidak memberatkan dari sisi akses.
Bila ekosistem ini berjalan, pedagang kecil di daerah diharapkan ikut merasakan perputaran uang di ekonomi digital. Dengan kata lain, manfaat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi pada platform besar, tetapi juga menyebar lebih luas.
Indonesia One disiapkan sebagai langkah awal
Sandeep Chakravorty menyebut implementasi awal ION sudah mulai disiapkan. Salah satu proyek percontohan yang disorot adalah aplikasi mobilitas terpadu bernama Indonesia One.
Aplikasi itu dikembangkan berbasis kode terbuka dan mengambil pelajaran dari keberhasilan Nammayatri di India. Melalui Indonesia One, penyedia layanan transportasi lokal dapat terhubung dalam satu aplikasi yang lebih fleksibel tanpa potongan komisi yang mencekik.
Chakravorty juga mengatakan Danantara menyambut baik peluang lahirnya model bisnis baru dari pendekatan tersebut. Badan Pengelola Investasi itu melihat ada jutaan peluang inovasi turunan jika jalan raya digital ini benar-benar diwujudkan secara nasional.
Langkah ini masih berada di tahap awal, tetapi arahnya menunjukkan strategi jangka panjang yang berbeda untuk kemandirian digital Indonesia. Di tengah persaingan global yang ketat, model terbuka seperti ION dipandang penting agar pertumbuhan ekonomi digital tetap berkelanjutan dan tidak mudah rapuh.
Source: id.mashable.com




