IHSG Bisa Keok Tapi Juga Melejit, Purbaya Pede Indeks Menuju 28.000 pada 2030

Target Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menuju 28.000 pada rentang 2029 hingga 2030 menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikannya dalam acara Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Main Hall BEI. Proyeksi itu tidak disampaikan sebagai angka lepas, tetapi sebagai gambaran dari potensi ekspansi ekonomi nasional yang dinilai masih panjang.

Purbaya menilai pergerakan saham Indonesia pada dasarnya mengikuti kekuatan ekonomi riil. Karena itu, level IHSG yang saat ini berada di sekitar 7.000 dianggap masih punya ruang kenaikan besar bila pertumbuhan ekonomi nasional berjalan konsisten dan tetap berada dalam fase ekspansi.

Ekspansi ekonomi jadi dasar proyeksi

Dalam penjelasannya, Purbaya menempatkan fase pertumbuhan ekonomi sebagai kunci utama arah pasar saham. Ia melihat periode naik dari titik rendah menuju puncak ekspansi masih akan berlangsung hingga 2029-2030.

Dari skenario itu, ia memperkirakan IHSG bisa bergerak empat hingga lima kali lipat dari posisi sekarang. Dengan hitungan kasar tersebut, angka 28.000 disebut masih masuk akal selama fondasi ekonomi tetap kuat dan tidak terganggu oleh pelemahan yang berarti.

Purbaya menegaskan bahwa pasar saham tidak hanya digerakkan oleh sentimen jangka pendek. Bagi dia, kekuatan fundamental ekonomi jauh lebih menentukan dalam membentuk arah jangka panjang indeks.

Jejak kenaikan besar bukan hal baru

Untuk memperkuat pandangannya, Purbaya mengingatkan kembali sejarah pasar modal Indonesia. Ia mencontohkan bahwa pada 2002, IHSG masih berada di kisaran 200-an, lalu naik ke sekitar 2.500 pada 2009.

Menurut dia, lonjakan itu menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia pernah mencatat kenaikan yang sangat besar dalam rentang waktu panjang. “Coba kalau Anda lihat tahun 2002, kan indeksnya 200-an. 2009 udah berapa? 2.500. Hah 10 kali naiknya,” ujarnya dalam forum tersebut.

Bagi Purbaya, pengalaman historis itu menjadi bukti bahwa kenaikan berlipat bukan sesuatu yang asing bagi pasar saham domestik. Karena itu, target 28.000 ditempatkan sebagai kelanjutan dari optimisme terhadap kemampuan ekonomi nasional untuk tumbuh dalam jangka panjang.

Data pasar modal ikut menguatkan optimisme

Pandangan tersebut juga mendapat dukungan dari paparan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara yang sama. Airlangga menyebut pasar modal Indonesia pernah tumbuh empat kali lipat dalam sembilan tahun, termasuk dari level 1.000 pada 2004 menjadi 4.200 pada 2013.

Ia juga menyoroti bahwa pasar modal Indonesia sempat mencatat pertumbuhan hingga 20 persen pada periode tertentu. Meski laju itu kemudian melambat ke kisaran 5-6 persen akibat pandemi COVID-19, Airlangga menilai arah partisipasi investor tetap positif.

“Kemudian kita lihat partisipasi investor, ini juga dalam negeri lebih baik dengan 50% di pasar saham,” kata Airlangga. Data itu menunjukkan bahwa basis investor lokal sudah memegang peran penting dalam menopang aktivitas pasar saham.

Investor domestik semakin penting

Kuatnya keterlibatan investor dalam negeri membuat struktur pasar menjadi lebih seimbang. Ketika sekitar separuh investor saham berasal dari dalam negeri, pasar tidak terlalu bergantung pada modal asing dan memiliki penopang yang lebih stabil.

Kondisi itu sejalan dengan proyeksi jangka panjang yang disampaikan Purbaya. Jika ekspansi ekonomi terus berjalan dan partisipasi investor domestik tetap terjaga, pasar saham Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, target IHSG 28.000 bukan sekadar angka ambisius. Angka itu sekaligus mencerminkan keyakinan bahwa ekonomi nasional masih memiliki ruang tumbuh yang luas, dengan sejarah kenaikan indeks, penguatan basis investor lokal, dan perkembangan pasar modal yang terus bergerak sebagai fondasi pentingnya.

Baca Juga

Back to top button