Hormuz Tetap Paling Rentan, Respons Iran Ke Proposal Damai AS Tunjukkan Jalur Masih Rapuh

Meski ketegangan di Timur Tengah belum benar-benar reda, sejumlah kapal tetap berhasil menyeberangi Selat Hormuz. Pergerakan itu memberi sinyal bahwa jalur paling sensitif bagi energi dunia ini masih terbuka di tengah tekanan diplomatik, ancaman keamanan, dan aksi militer yang belum berhenti.

Iran tetap menempatkan keselamatan pelayaran di selat sempit itu sebagai isu utama dalam responsnya atas proposal damai Amerika Serikat. Teheran juga menegaskan bahwa penghentian perang harus berlaku di semua lini, terutama Lebanon, sementara rincian soal kapan jalur air itu bisa sepenuhnya dibuka kembali belum dijelaskan.

Selat Hormuz tetap jadi titik tekan

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena perannya yang besar bagi arus energi global. Sebelum perang, jalur ini membawa seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan langsung memicu kekhawatiran pasar dan negara-negara pengimpor energi.

Selama ini Iran disebut kerap menahan kapal non-Iranian melintas di jalur tersebut. Di saat yang sama, ancaman juga datang dari udara karena drone bermusuhan masih terdeteksi di beberapa negara Teluk pada hari Minggu.

Uni Emirat Arab mengatakan berhasil mencegat dua drone yang datang dari Iran. Kuwait menyebut pertahanan udaranya menangani drone bermusuhan yang masuk ke wilayah udaranya, sementara Qatar mengecam serangan drone yang menghantam kapal kargo asal Abu Dhabi di perairannya.

Kapal tetap melintas di tengah ketegangan

Di tengah situasi itu, kapal milik QatarEnergy bernama Al Kharaitiyat berhasil melewati selat dengan aman dan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan. Menurut data firma analitik pelayaran Kpler, itu merupakan kapal Qatar pertama yang membawa gas alam cair dan melintasi selat sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari.

Perpindahan kapal itu disebut memberi sedikit kelegaan bagi Pakistan setelah gelombang pemadaman listrik akibat terhentinya impor gas. Langkah tersebut juga disebut sudah disetujui Iran sebagai upaya membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, yang sama-sama berperan sebagai mediator.

Selain itu, sebuah kapal curah berbendera Panama yang menuju Brasil dan sempat mencoba melintas pada 4 Mei juga berhasil lewat. Iran mengatur lintasan kapal itu melalui rute yang ditetapkan angkatan bersenjatanya, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.

Diplomasi berjalan, tetapi belum ada kepastian

Respons Iran terhadap proposal damai Amerika sebelumnya diteruskan oleh Pakistan kepada Washington, menurut seorang pejabat Pakistan. Hingga kini, belum ada komentar langsung dari pihak Amerika Serikat.

Proposal dari Washington disebut meminta penghentian pertempuran sebelum pembicaraan dimulai mengenai isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Di sisi lain, media pemerintah Iran menyebut Teheran menekankan penghentian perang di semua lini, terutama Lebanon, sambil tetap menyoroti keselamatan pengiriman barang melalui Selat Hormuz.

Situasi di lapangan tetap rapuh meski ada gencatan senjata yang sudah berlangsung sebulan dan sekitar 48 jam ketenangan relatif. Konflik di Lebanon selatan juga belum mereda, meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika diumumkan pada 16 April.

Tekanan dari medan perang dan politik

Ketegangan di sekitar selat ikut dipicu insiden baru dalam beberapa hari terakhir. Baku tembak sporadis dilaporkan masih terjadi antara pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat di selat itu, sementara Uni Emirat Arab kembali diserang pada Jumat.

Konflik regional ini juga menekan para pemimpin di Washington. Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang menjelang kunjungannya ke China pekan ini, di tengah perang yang telah memicu krisis energi global dan menambah risiko bagi ekonomi dunia.

Di ranah politik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dalam komentar yang ditayangkan pada hari Minggu bahwa lawannya “dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka selesai.” Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di media sosial bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk kepada musuh” dan akan “membela kepentingan nasional dengan kekuatan.”

Sikap negara-negara Barat belum sejalan

Amerika Serikat disebut belum berhasil memperoleh dukungan luas untuk mengamankan selat. Sekutu NATO menolak seruan untuk mengirim kapal demi membuka Selat Hormuz tanpa kesepakatan damai penuh dan misi yang mendapat mandat internasional.

Inggris menyatakan siap membantu misi internasional dan pada Sabtu mengatakan akan mengerahkan kapal perang ke Timur Tengah, mengikuti langkah serupa dari Prancis. Namun Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menilai pengerahan kapal perang Inggris, Prancis, atau negara lain di sekitar Hormuz dengan dalih melindungi pengiriman barang akan dianggap sebagai eskalasi dan akan dihadapi dengan kekuatan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mengatakan negaranya siap membantu misi internasional, tetapi Prancis “tidak pernah membayangkan pengerahan militer untuk membuka kembali Hormuz.” Di tengah semua pernyataan itu, jalur diplomasi masih berjalan, sementara Selat Hormuz tetap memegang peran paling menentukan bagi perang, energi, dan keamanan kawasan.

Baca Juga

Back to top button