Hormuz Kembali Memanas, AS Tembak Jatuh Drone Iran Lalu Balas Serang Radar Pesisir

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Amerika Serikat menembak jatuh empat drone Iran yang disebut sebagai one-way attack drones. Washington menilai perangkat itu bergerak menuju jalur pelayaran yang sangat vital dan langsung membahayakan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.

Sesudah insiden itu, Komando Pusat AS atau Centcom mengatakan pasukannya membalas dengan menyerang lokasi radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan di Pulau Qeshm. Serangan balasan itu dipakai untuk mencegah ancaman lanjutan, sementara Iran belum memberikan komentar terbuka terkait kejadian terbaru ini.

Balasan beruntun di jalur yang sensitif

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena kawasan ini memang sangat menentukan arus energi dunia. Sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair global melewati selat tersebut, sehingga setiap gangguan langsung memicu kekhawatiran pasar.

Dalam situasi seperti ini, drone, radar pesisir, dan jalur pelayaran strategis saling terkait sebagai sasaran yang mudah memicu respons berantai. Pola itu membuat insiden di laut tidak lagi berdiri sendiri, melainkan cepat menjalar ke darat dan ke ruang keamanan yang lebih luas.

Rangkaian kejadian yang saling memicu

Centcom menyebut eskalasi terbaru tidak muncul tiba-tiba. Menurut komando militer AS itu, rangkaian peristiwa berawal dari serangan drone Iran ke bandara internasional Kuwait pada Rabu.

Pihak lokal menyatakan satu orang tewas dan lebih dari 60 orang luka-luka dalam insiden tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC membantah bertanggung jawab, dan mengatakan kerusakan terjadi karena kesalahan interceptor rudal milik Amerika Serikat.

Pernyataan IRGC itu ditolak Centcom. Komando militer AS tersebut menyebut serangan ke bandara Kuwait sebagai tindakan yang sengaja, terencana, dan tidak dapat dibenarkan.

Ketegangan yang makin sulit diredakan

Sebelum itu, IRGC juga mengatakan pihaknya menargetkan pangkalan AS di Teluk sebagai balasan atas serangan AS terhadap sebuah kapal tanker minyak Iran dan Pulau Qeshm. Saling balas semacam ini membuat situasi keamanan di sekitar Teluk Persia semakin sulit diprediksi.

Di saat yang sama, negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran dilaporkan mandek. Kesepakatan untuk mengakhiri perang belum maju, sementara serangan di kawasan terus berlangsung.

Kondisi itu menambah tekanan pada gencatan senjata rapuh yang sejauh ini masih sulit dipertahankan. Setiap serangan baru berisiko membuka putaran respons lain yang lebih luas.

Latar konflik yang belum mereda

Eskalasi terbaru ini juga tidak bisa dilepaskan dari rangkaian serangan besar yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu konflik yang meluas di seluruh Timur Tengah, lalu Iran membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.

Di tengah situasi tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif dalam krisis ini. Iran pada dasarnya menutup jalur itu, sehingga setiap gesekan di sekitarnya segera berdampak pada keamanan kawasan dan perhatian pasar energi global.

Tak lama setelah gencatan senjata disepakati pada awal April, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump mengatakan blokade itu akan tetap berlaku “dalam kekuatan penuh dan efek” sampai ada kesepakatan yang tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.

Dengan drone di udara, radar pantai menjadi sasaran, dan jalur pelayaran tetap berada di bawah ancaman, konflik ini bergerak di banyak titik sekaligus. Situasi di Hormuz kini memperlihatkan bahwa satu tindakan balasan dapat segera memunculkan respons baru di laut, di darat, dan di meja perundingan.

Baca Juga

Back to top button