Motorola kini bertaruh besar pada dua hal yang paling dicari pembeli ponsel kelas menengah, yakni baterai besar dan harga yang lebih masuk akal. Strategi itu langsung terasa di lini Edge, terutama Motorola Edge 60 Fusion yang kini berada di kisaran 3 jutaan setelah sebelumnya mendekati 6 juta.
Perubahan harga ini membuat peta persaingan ikut bergeser. Edge 60 Fusion yang sebelumnya terkesan bermain di kelas lebih tinggi sekarang tampil sebagai penantang serius di segmen yang jauh lebih ramai.
Edge 60 Fusion jadi pusat perhatian
Daya tarik utama Edge 60 Fusion bukan hanya pada banderol barunya, tetapi juga pada paket yang dibawanya. Ponsel ini memakai layar P-OLED 6,67 inci dengan desain curve dan ditenagai Dimensity 7400 berbasis 4nm.
Motorola juga membekalinya dengan sertifikasi standar militer serta IP68. Kombinasi layar melengkung, bodi tipis, dan ketahanan terhadap air serta debu membuat model ini terlihat lebih matang untuk kelas harganya saat ini.
Di sisi lain, penurunan harga yang tajam membuat posisinya semakin sulit diabaikan. Saat banyak ponsel menengah bersaing pada spesifikasi serupa, Edge 60 Fusion justru mendapat sorotan karena menawarkan kesan premium dengan harga yang jauh lebih rendah.
Motorola tidak hanya mengandalkan satu model
Di atas Edge 60 Fusion, Motorola masih menempatkan Edge 60 Pro untuk pengguna yang lebih peduli kamera. Perangkat ini membawa kamera utama 50MP OIS, kamera ultra-wide 50MP, dan telefoto 10MP dengan 3x optical zoom.
Edge 60 Pro juga memakai Dimensity 8350 Extreme. Susunan ini menegaskan bahwa Motorola menyiapkan jalur yang lebih serius untuk pengguna yang ingin performa dan kemampuan fotografi dalam satu perangkat.
Masih di keluarga Edge, ada Edge 70 Fusion yang menonjol karena bodinya sangat tipis. Ketebalannya hanya 7,2 mm, tetapi perangkat ini tetap membawa layar AMOLED 6,78 inci dengan kecerahan 5.200 nits dan baterai 7000 mAh.
Baterai besar jadi senjata di kelas bawah dan menengah
Pendekatan serupa juga dibawa ke lini G. Motorola G06 Power hadir dengan baterai 7000 mAh dan pengisian cepat 18W, lalu dipasangkan dengan layar 6,8 inci IPS LCD 120Hz, Helio G81 Extreme, serta RAM 4GB.
Motorola G57 Power ikut masuk ke area yang sama dengan Snapdragon 6S Gen 4 berbasis 4nm. Ponsel ini membawa layar 6,72 inci dan baterai 7000 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga 2 hari pemakaian.
Motorola G67 Power menyasar pengguna yang ingin daya tahan sekaligus kamera lebih serius. Model ini memakai Snapdragon 7 Gen 2, kamera Sony LYTIA 600 50MP, baterai 7000 mAh, serta sertifikasi standar militer dan IP64.
Sementara itu, Motorola G86 Power tampil dengan layar OLED 6,67 inci 120Hz. Perangkat ini menggunakan Dimensity 7300, kamera utama 50MP OIS, dan kamera depan 32MP.
Lini lipat dan flagship ikut diperkuat
Motorola juga tidak melupakan segmen ponsel lipat. Razr 60 hadir dengan layar utama 6,9 inci P-OLED 120Hz dan layar eksternal 3,6 inci yang berguna untuk notifikasi serta selfie.
Di balik desain lipatnya, Razr 60 memakai Dimensity 7400X. Kehadiran layar eksternal membuat perangkat ini tetap fungsional meski layar utama tidak dibuka.
Pada posisi paling tinggi, Motorola menyiapkan Signature sebagai flagship paling atas. Model ini mengandalkan Snapdragon 8 Gen 5, layar AMOLED 165Hz, tiga sensor Sony 50MP, RAM hingga 16GB, dan storage 1TB.
Pergerakan Motorola menunjukkan bahwa kompetisi di kelas menengah hingga premium tidak lagi bertumpu pada nama besar saja. Dengan kombinasi harga yang lebih agresif, baterai jumbo, layar cepat, dan spesifikasi yang terasa naik kelas, Motorola kini punya banyak kartu untuk menekan rivalnya di pasar Indonesia.





