Harga Tinggi Aramco Dan Jalur Hormuz Tersendat, Ekspor Minyak Saudi Ke China Tertekan

Arab Saudi sedang menghadapi tekanan ganda dalam menjaga aliran minyak ke China. Di satu sisi, jalur pengiriman dari Teluk terganggu oleh kondisi di Selat Hormuz, sementara di sisi lain harga jual resmi Aramco membuat pembeli semakin menahan langkah.

Dampaknya terlihat jelas pada perkiraan pengiriman untuk Juni mendatang. Volume ekspor minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan hanya berada di kisaran 13 juta hingga 14 juta barel, jauh di bawah pengiriman Mei yang sekitar 20 juta barel.

Penurunan ini menjadi sinyal penting bagi pasar karena China merupakan tujuan utama minyak Saudi. Saat arus pasokan ke importir terbesar di dunia itu menyusut tajam, perhatian pedagang langsung tertuju pada seberapa besar gangguan di kawasan Teluk akan bertahan.

Hormuz mengubah jalur pengiriman

Situasi keamanan di kawasan telah memaksa Arab Saudi menyesuaikan rute ekspornya. Penutupan sebagian besar akses di Selat Hormuz membuat perusahaan minyak itu harus memangkas total volume ekspor global dan mencari jalur alternatif untuk menjaga pasokan tetap bergerak.

Sebagai langkah pengamanan, Arab Saudi kini lebih mengandalkan terminal Yanbu di pesisir Laut Merah. Terminal ini dipakai untuk mengirim minyak ke pasar internasional tanpa harus melewati jalur pelayaran yang terdampak konflik di Teluk.

Para pedagang menyebut seluruh muatan minyak mentah yang dijadwalkan tiba di China pada Juni akan dikirim melalui terminal Yanbu. Perubahan ini menunjukkan penyesuaian besar dalam rantai distribusi minyak Saudi di tengah ketegangan regional.

Harga Aramco ikut menekan minat beli

Selain persoalan rute, harga jual resmi Aramco juga ikut menahan permintaan. Untuk pengiriman Juni, harga itu dipasang lebih tinggi dibanding harga pasar spot untuk minyak mentah serupa di Timur Tengah.

Perbandingan itu mencakup Murban dari Abu Dhabi dan minyak mentah Oman. Di saat premi minyak mentah di pasar fisik justru turun dalam beberapa pekan terakhir, harga yang lebih tinggi membuat pembeli semakin berhitung sebelum menyerap kargo Saudi.

Kondisi ini berbeda jauh dari pola normal sebelum pecahnya konflik Iran. Pada periode biasa, ekspor minyak Saudi ke China umumnya berada di kisaran 40 juta hingga 50 juta barel per bulan, sehingga estimasi 13 juta hingga 14 juta barel mencerminkan penurunan yang sangat dalam.

Pasar menunggu arah berikutnya

Gabungan antara gangguan keamanan dan strategi harga kini menjadi faktor utama yang membentuk arus minyak Saudi ke Asia. Dalam situasi seperti ini, daya saing minyak mentah Arab Saudi di pasar utama ikut tertekan karena pembeli memiliki lebih banyak pertimbangan.

Hingga kini, Aramco belum memberikan pernyataan resmi atau menanggapi permintaan komentar terkait proyeksi penurunan ekspor tersebut. Pasar pun masih memantau apakah gangguan di Selat Hormuz akan berlanjut dan seberapa besar dampaknya terhadap pasokan dari kawasan Teluk.

Di saat yang sama, keputusan harga Aramco tetap menjadi penentu penting bagi permintaan dari China. Selama harga tetap berada di atas pasar spot untuk jenis minyak sejenis, ruang pemulihan volume pengiriman ke Negeri Panda akan tetap terbatas.

Baca Juga

Back to top button