Harga Masih Jadi Beban, Honda Kian Terhimpit Saat Dealer Mulai Pindah ke Merek China

Perubahan peta persaingan di pasar mobil Indonesia kini terasa langsung oleh Honda. Bukan hanya karena penjualannya terus melemah, tetapi juga karena sebagian jaringan dealer disebut ikut bergeser dan memilih menjadi dealer mobil China.

Dalam situasi seperti ini, tekanan yang dihadapi Honda tidak lagi terbatas pada angka distribusi. Posisi merek asal Jepang itu ikut diuji oleh pasar yang bergerak lebih agresif, sementara segmen mobil terjangkau belum cukup kuat menopang penjualan mereka.

Dealer mulai ikut berubah

Salah satu sinyal paling mencolok datang dari jaringan distribusi. Tidak sedikit dealer Honda yang kemudian beralih menjadi dealer mobil China, dan langkah itu memperlihatkan betapa kerasnya kompetisi di lapangan.

Perubahan tersebut bukan sekadar soal nama di papan showroom. Kondisi itu juga menandakan bahwa peta bisnis otomotif di Indonesia sedang bergeser, sehingga tekanan terhadap Honda datang dari sisi penjualan sekaligus dari saluran pemasaran.

Penjualan melemah di dua jalur

Kinerja Honda sebenarnya sudah menunjukkan pelemahan sejak tahun lalu. Pada jalur wholesales, penjualan hanya mencapai 56,5 ribu unit, turun 40,4 persen dibanding 2024 yang tembus 94 ribu unit.

Di sisi retail, hasilnya juga belum membaik. Penjualan turun 30,9 persen dari 103.023 unit menjadi 71.233 unit, sehingga pelemahan terjadi di dua jalur sekaligus.

Awal 2026 belum memberi perbaikan

Tekanan itu berlanjut hingga Januari sampai April 2026. Dalam periode tersebut, penjualan Honda turun 37,3 persen, sementara pasar mobil nasional disebut masih bergerak relatif tenang tanpa penurunan yang ekstrem.

Artinya, pelemahan Honda tidak bisa hanya dijelaskan oleh kondisi pasar secara umum. Di saat pasar nasional belum jatuh tajam, angka Honda justru turun lebih dalam.

Ekspansi mobil China ikut menekan

Salah satu faktor yang kuat disebut berasal dari makin besarnya ekspansi merek mobil asal China. Merek-merek baru itu terus memperbesar penjualan di Indonesia dan membuat kompetitor lain tertinggal lebih jauh.

Situasi ini ikut mengubah wajah persaingan di banyak segmen. Merek yang sebelumnya kuat kini harus berhadapan dengan pemain baru yang bergerak cepat dan agresif.

Harga masih jadi hambatan

Di tengah tekanan tersebut, Honda masih membawa stigma harga mobil yang mahal. Stigma ini dinilai ikut mengurangi daya tarik produk mereka, terutama ketika konsumen makin sensitif terhadap harga.

Brio tetap menjadi mobil murah yang dijual Honda, khususnya melalui model LCGC Satya yang selama ini diunggulkan. Namun di luar itu, sebagian besar model Honda sudah berada di level harga di atas Rp 500 jutaan.

Daftar model dengan banderol tinggi itu mencakup HR-V, Step WGN, hingga Prelude yang baru dirilis. Dengan komposisi seperti itu, Honda belum punya cukup banyak opsi murah untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Lini produk lengkap belum cukup menahan pelemahan

Honda selama ini dikenal memiliki jajaran produk yang lengkap. Mereka menjual SUV, MPV, sedan, hingga hatchback, tetapi ragam model tersebut belum mampu membendung penurunan penjualan yang terjadi dalam setahun terakhir.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Honda bukan hanya jumlah model yang tersedia. Tantangan utamanya kini berada pada daya saing harga dan kemampuan mempertahankan posisi di pasar yang semakin ketat.

Honda masih bertahan di Indonesia, tetapi penjualan yang terus tertekan dan pergeseran dealer memberi sinyal bahwa persaingan belum akan menjadi lebih mudah. Selama ruang di segmen mobil terjangkau belum membesar, tekanan yang sudah terlihat sejak tahun lalu berpotensi berlanjut.

Source: ridertua.com

Baca Juga

Back to top button