Pergerakan ekspor jam tangan Swiss menunjukkan pola yang tidak rata saat pasar global masih dibayangi gangguan geopolitik di Timur Tengah. Di saat beberapa pasar masih memberi dukungan, kawasan Teluk justru menjadi titik lemah yang paling terlihat, terutama karena turunnya permintaan dari Arab Saudi dan Qatar.
Federation of the Swiss Watch Industry mencatat nilai ekspor jam tangan Swiss pada kuartal pertama sebesar 6,2 miliar franc Swiss. Angka itu masih naik tipis 1,4 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya, tetapi laju pertumbuhannya dinilai melunak dan tidak lagi semantap sebelumnya.
Tekanan paling besar datang dari Teluk
Arab Saudi dan Qatar menjadi pasar yang paling terasa terpukul. Ekspor ke Arab Saudi turun 16,8 persen, sementara Qatar merosot hampir 25 persen, padahal keduanya sempat berperan sebagai penopang penting bagi ekspor jam tangan Swiss.
Analis Vontobel, Manuel Lang, menilai data Maret belum sepenuhnya menangkap kondisi permintaan akhir di kawasan itu. Ia menyebut penjualan langsung justru menunjukkan penurunan sekitar 50 persen, sehingga pelemahan yang terjadi tampak lebih dalam daripada sekadar angka pengiriman barang.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa gangguan di Timur Tengah tidak berhenti pada jalur distribusi. Minat beli konsumen di kawasan Teluk juga ikut melemah, sehingga pasar yang sebelumnya dikenal kuat kini justru memberi beban tambahan bagi industri.
Biaya bahan ikut mempersempit ruang produsen
Di sisi lain, produsen jam tangan Swiss juga harus menghadapi tekanan dari biaya material logam mulia yang naik. Harga emas yang lebih tinggi membuat pengaturan bahan baku menjadi lebih rumit, terutama bagi merek yang mengandalkan logam mulia sebagai bagian penting dari identitas produknya.
Bertrand Meylan dari H. Moser & Cie mengatakan mereknya tetap menjaga citra bernilai tinggi, namun kini lebih berhati-hati dalam memakai emas. Ia menekankan bahwa kekuatan merek terletak pada kemampuannya menawarkan nilai tinggi dibandingkan harganya.
Pernyataan itu mencerminkan penyesuaian yang lebih luas di industri. Saat biaya bahan naik, produsen perlu menjaga keseimbangan antara kualitas, citra merek, dan daya beli pasar agar produk tetap kompetitif.
Pasar juga bergeser ke kelas harga menengah
Data pengiriman memperlihatkan perubahan selera konsumen yang cukup jelas. Ekspor jam tangan berbahan logam mulia turun 4 persen, sedangkan jam tangan baja menyusut 9 persen.
Sebaliknya, segmen harga menengah justru tumbuh, terutama produk di kisaran 200 hingga 500 franc Swiss. Pola ini memperlihatkan bahwa pembeli semakin selektif dan cenderung mencari produk yang dianggap lebih seimbang antara harga dan nilai.
Analis RBC, Nikolaos Lafioniatis, menilai tren ini berpotensi menguntungkan Swatch Group. Pandangan itu berkaitan dengan posisi perusahaan di segmen harga menengah serta performanya di China.
Pasar besar lain masih memberi sinyal campuran
Di luar Timur Tengah, ekspor jam tangan Swiss masih bergerak dengan hasil yang beragam. Pengiriman ke Amerika Serikat turun tipis 1,6 persen setelah sempat menguat pada bulan sebelumnya.
China masih memberikan dukungan dengan kenaikan 4,2 persen. Sementara itu, lonjakan 72 persen di Prancis dinilai lebih banyak dipengaruhi ekspor ulang ke negara lain daripada permintaan domestik murni.
Kombinasi data tersebut memperlihatkan bahwa industri jam tangan Swiss kini bergerak di tengah pasar yang sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik dan tekanan biaya produksi. Selama gangguan di Timur Tengah belum mereda dan harga material tetap tinggi, produsen tampaknya masih harus menyesuaikan strategi agar ekspor tetap bertahan di tengah permintaan yang belum pulih merata.





