Lonjakan harga BBM nonsubsidi per 18 April kembali menarik perhatian publik, terutama karena perubahan paling besar terjadi pada Dexlite dan Pertamina Dex. Di saat yang sama, Pertamax Turbo ikut naik, sementara sejumlah produk lain seperti Pertamax, Pertamax Green 95, Pertalite, dan Biosolar masih dipertahankan pada harga sebelumnya.
Penyesuaian ini muncul ketika pasar energi global sedang bergerak cepat dan harga minyak dunia mengalami tekanan. Dalam situasi tersebut, pemerintah memilih menjaga harga BBM subsidi agar beban masyarakat luas tidak ikut terdorong naik.
Pergerakan harga yang paling mencolok
Data MyPertamina menunjukkan kenaikan tajam terjadi pada dua produk diesel nonsubsidi. Dexlite yang sebelumnya berada di Rp14.200 melonjak menjadi Rp23.600 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Kenaikan juga terlihat pada Pertamax Turbo yang bergerak dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Adapun Pertamax tetap di Rp12.300, Pertamax Green 95 tetap Rp12.900, Pertalite tetap Rp10.000, dan Biosolar tetap Rp6.800.
Mengikuti arah pasar energi
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dipandang sebagai respons terhadap kondisi pasar yang memang sedang bergejolak. Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai produk nonsubsidi semestinya bergerak lebih dekat dengan perubahan ekonomi global.
Fahmy menyebut kenaikan itu sebagai koreksi atas keadaan sebelumnya ketika pasokan pasar dunia sudah naik, tetapi harga belum ikut menyesuaikan. Ia juga menilai BBM dengan RON 92 ke atas selayaknya mengikuti dinamika pasar, terutama saat harga minyak mentah internasional naik.
Di saat yang sama, ia menekankan bahwa harga BBM subsidi perlu dijaga agar inflasi tidak terdorong lebih tinggi. Pandangan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tidak mengubah harga Pertalite dan Biosolar.
Dampak ke masyarakat dinilai terbatas
Meski kenaikannya terlihat besar pada beberapa produk, dampaknya terhadap masyarakat umum dinilai tidak terlalu luas. Fahmy menjelaskan, pengguna BBM nonsubsidi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan pengguna Pertalite dan Biosolar.
Ia juga menyoroti bahwa BBM nonsubsidi bukan bahan bakar utama untuk angkutan kebutuhan pokok. Karena itu, kenaikan harga di kelompok ini tidak langsung menekan konsumsi harian masyarakat luas.
Pandangan serupa disampaikan pakar ekonomi Universitas Negeri Manado, Robert Winerungan. Menurut dia, konsumen BBM nonsubsidi umumnya berasal dari kelompok menengah ke atas, sehingga pengaruhnya terhadap inflasi cenderung kecil.
Potensi pergeseran pola konsumsi
Robert tetap mengingatkan adanya kemungkinan peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi. Kondisi itu membuat pengawasan perlu diperketat agar distribusi BBM subsidi tetap sesuai sasaran.
Dari sisi kebijakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan adanya perbedaan pengaturan antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Ia menjelaskan bahwa BBM untuk industri dan nonsubsidi mengikuti harga pasar, sedangkan BBM bersubsidi berada dalam kendali pemerintah.
Pilihan konsumen mulai berubah
Di tengah kenaikan harga energi, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, melihat ada peluang sebagian konsumen menengah ke atas melirik kendaraan listrik. Menurut dia, pengguna yang biasa memakai Pertamax Turbo atau Pertamina Dex bisa mulai mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif.
Namun, Bhima menilai transisi itu tidak bisa terjadi cepat. Ia menyoroti gangguan rantai pasok global dan biaya produksi kendaraan listrik yang ikut terdampak situasi geopolitik.
Bhima juga menilai insentif kendaraan listrik masih menjadi faktor penting bagi konsumen. Dengan kondisi harga energi yang terus disesuaikan mengikuti pasar, pola konsumsi masing-masing kelompok pengguna diperkirakan akan tetap berbeda dalam beberapa waktu ke depan.





