Honor kembali menambah opsi bagi pengguna Magic 8 Pro yang ingin merasakan pengalaman memotret lebih serius tanpa harus membawa perangkat kamera besar. Lewat Honor Magic 8 Pro Professional Imaging Kit hasil kolaborasi dengan Telesin, pendekatannya terasa lebih praktis karena bukan hanya fokus pada lensa tambahan, tetapi juga pada cara pakai yang lebih fleksibel.
Yang membuat paket ini menonjol bukan sekadar kelengkapan aksesori, melainkan susunan komponennya yang dirancang untuk bekerja sebagai satu sistem. Dalam pengujian selama beberapa pekan, kit ini justru dinilai mengambil elemen terbaik dari sejumlah rival, lalu memadukannya dengan ide yang memberi karakter tersendiri.
Rangkaian aksesori yang terasa lengkap
Paket ini membawa tiga komponen utama, yaitu casing ponsel, grip magnetik dengan kontrol taktil, dan lensa teleconverter dengan sistem pemasangan bayonet. Honor dan Telesin juga menyertakan adaptor filter 67mm, strap leher, serta strap pergelangan tangan.
Dari sisi desain, paket ini memang mengingatkan pada aksesori milik merek lain. Sistem bayonet-nya dekat dengan pendekatan Vivo, sedangkan grip magnetiknya terasa serupa dengan milik Oppo, tetapi ada sejumlah detail yang membuatnya tidak terasa sekadar menyalin.
Casing ponsel memakai material konduktif panas di bagian dalam. Area cincin magnetiknya juga tampak memiliki semacam heatsink kecil, sementara Telesin menyiapkan aksesori tambahan yang bisa dipasang di dudukan magnetik itu.
Grip yang memberi ruang gerak lebih luas
Bagian grip menjadi salah satu pembeda yang paling terasa saat digunakan. Aksesori ini menempel lewat magnet yang sangat kuat, mendukung MagSafe, dan magnetnya juga ada di kedua sisi grip.
Susunan itu membuat tripod MagSafe tetap bisa dipasang tanpa perlu melepas grip. Dibanding grip USB-C pada kit Vivo dan Xiaomi, desain ini memberi dua keuntungan penting, yaitu grip bisa diputar untuk pemotretan vertikal dan port USB-C ponsel tetap terbuka.
Keunggulan tersebut membuat perangkat lain masih bisa dipakai saat grip terpasang. Wireless microphone receiver atau SSD tetap dapat digunakan, sesuatu yang menambah nilai praktis saat sesi pemotretan atau perekaman berlangsung.
Ada kompromi yang harus diterima. Grip ini tidak mengisi daya ponsel dan harus diisi daya sendiri karena fungsinya lebih dekat ke remote Bluetooth yang lebih mewah.
Kontrol yang tersedia juga cukup lengkap, mulai dari tombol shutter dua tahap, tombol video, zoom rocker, tombol daya, hingga roda kontrol bertekstur ratchet. Namun, semua kontrol itu tidak bisa diprogram ulang dan harus dipakai sesuai konfigurasi bawaan.
Teleconverter jadi pusat perhatian
Komponen yang paling membedakan paket ini justru lensa teleconverter. Secara tampilan dan rasa, bagian ini dekat dengan milik Vivo dan Oppo, dengan bodi logam berbobot dan elemen optik kaca.
Mount bayonet-nya memang mirip, tetapi tidak kompatibel silang dengan kit Vivo dan Oppo. Lensa ini juga dilengkapi penutup belakang karet dan penutup atas logam untuk menjaga kaca tetap aman, meski pada unit yang diuji penutup logam terasa longgar dan mudah lepas.
Secara kemampuan, teleconverter ini memberi pembesaran 2,35x dan bekerja bersama telephoto bawaan ponsel. Hasilnya setara sudut pandang sekitar 200mm dalam istilah full-frame, lalu zoom digital masih bisa didorong jauh di atas itu.
Perbedaan dengan zoom digital biasa langsung terlihat. Detail naik cepat pada 200mm, dan hasilnya masih dinilai layak bahkan hingga sekitar 1600mm.
Performa paling kuat di portrait dan cahaya rendah
Peningkatan paling terasa muncul pada pemotretan medium close-up. Kompresi dari lensa yang lebih panjang menghasilkan blur latar belakang yang kuat, sehingga foto terasa lebih dekat ke karakter kamera mirrorless berukuran lebih besar.
Di kondisi cahaya rendah, hasilnya juga dinilai meyakinkan. Saat dipakai di 200mm, sensor 1/1.4 inci digunakan penuh, bukan dipotong, sehingga foto dan video terlihat lebih terang dengan noise serta motion blur yang lebih rendah.
Untuk video, stabilisasinya disebut cukup meyakinkan. Autofocus juga bekerja baik, terutama untuk subjek manusia, meski pelacakan burung belum sekuat itu.
Ada batasan software yang perlu diperhatikan
Sebelum digunakan, teleconverter harus diaktifkan lewat menu pengaturan aplikasi kamera. Jika langkah ini dilewati, tampilan gambar akan terbalik dan sangat goyang.
Setelah aktif, mode Teleconverter muncul di quick settings ketika pengguna berada di mode Photo atau Video. Honor juga menyediakan opsi tambahan seperti mode Stage untuk konser serta sejumlah filter.
Di sisi video, perekaman bisa mencapai 4K120, tetapi stabilisasinya kurang baik pada mode itu. Untuk hasil yang lebih mulus, 4K60 atau lebih rendah jadi pilihan yang lebih aman.
Ada pula batasan lain yang menyerupai implementasi Oppo. Kit ini tidak mendukung RAW, tidak menyediakan mode resolusi tinggi, dan belum menawarkan profil Log untuk video.
Posisi yang cukup kompetitif
Dibanding para pesaing, Honor membawa satu nilai praktis yang cukup jarang ditemui. Faktor termal ikut diperhatikan lewat lapisan konduktif pada casing, sementara grip yang bisa diputar dan port USB-C yang tetap terbuka memberi keleluasaan lebih besar.
Secara kualitas optik, kit ini disebut berada di level yang sangat mirip dengan teleconverter lain yang sudah diuji, meski tanpa branding Hasselblad atau Zeiss. Saat ini kit tersebut tersedia di China, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Bangladesh, sementara status peluncurannya di Eropa belum dikonfirmasi.





