Ketegangan antara Tehran dan Washington kembali memanas setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melayangkan sindiran tajam kepada Presiden AS Donald Trump. Ia meremehkan gagasan blokade Angkatan Laut AS dan menegaskan bahwa wilayah Iran terlalu luas untuk dipersempit dengan cara semacam itu.
Ghalibaf juga tidak berhenti pada Trump. Dalam responsnya, ia ikut menyinggung Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan menempatkan klaim blokade sebagai sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal jika melihat bentang perbatasan Iran.
Melalui unggahan di media sosial, Ghalibaf mengejek anggapan bahwa blokade laut lebih efektif daripada bombardemen. Ia menilai pendekatan itu tidak akan cukup untuk menjerat Iran, apalagi jika dipakai untuk menekan negara dengan perbatasan yang sangat panjang.
Untuk menegaskan sindirannya, Ghalibaf membuat perbandingan jarak yang ditujukan langsung untuk merendahkan ide pengepungan total. Ia menyebut dua garis tembok imajiner, satu dari New York ke pantai barat Amerika Serikat dan satu lagi dari Los Angeles ke pantai timur, lalu menyatakan totalnya hanya 7.755 kilometer.
Menurut Ghalibaf, angka itu masih sekitar seribu kilometer lebih pendek daripada total panjang perbatasan Iran. Ia menutup ejekan itu dengan kalimat, “Selamat mencoba mengepung negara dengan perbatasan sepanjang itu!” disertai emoticon tertawa.
Sindiran tersebut muncul di saat Trump justru memperkuat tekanan terhadap Iran terkait program nuklirnya. Dalam pembahasan yang dilaporkan Axios pada Rabu, 29 April 2026, Trump disebut menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump memilih mempertahankan blokade Angkatan Laut AS dan menyebut langkah itu bisa berlangsung berbulan-bulan. Ia juga mengatakan kebijakan tersebut berpotensi mendorong harga minyak naik ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Di hadapan publik, Trump bahkan menyatakan blokade laut lebih efektif daripada pengeboman. Ia berkata, “Mereka tercekik seperti babi yang dijejali,” lalu menambahkan bahwa kondisi Iran akan menjadi lebih buruk jika tekanan itu diteruskan.
Trump juga mengklaim Iran sedang mencari kesepakatan agar blokade AS atas jalur pelayaran strategis itu dicabut. Pada saat yang sama, ia menolak tawaran Iran untuk membuka Selat Hormuz sambil menunda pembahasan soal nuklir.
Bagi Trump, tujuan utamanya tetap sama, yaitu mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia juga menegaskan bahwa ketidakmampuan Iran mengekspor minyak telah membuat infrastruktur negara itu “hampir meledak.”
Situasi itu menunjukkan bahwa Washington masih memakai tekanan ekonomi dan militer secara bersamaan. Selat Hormuz, program nuklir, dan jalur ekspor minyak tetap menjadi titik paling sensitif dalam relasi kedua negara.
Di tengah diplomasi yang mandek setelah beberapa kali gagal, Trump juga berbicara lewat telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin disebut memperingatkan adanya “konsekuensi yang merusak” jika Amerika Serikat dan Israel terus melanjutkan perang mereka terhadap Iran.
Source: www.viva.co.id




