Gencatan Senjata Lebanon Kian Rapuh, Israel Serang Mashghara Dan Tewaskan 12 Warga

Gelombang serangan Israel kembali memperlebar tekanan di Lebanon, kali ini dengan sasaran yang menjangkau Lembah Bekaa hingga wilayah selatan. Di tengah eskalasi itu, sedikitnya 12 warga dilaporkan tewas di desa Mashghara, Lebanon timur, setelah rentetan serangan udara menghantam kawasan permukiman pada larut malam.

Tim penyelamat masih bekerja di antara reruntuhan, sementara laporan orang hilang terus berdatangan. Jumlah korban tewas juga belum dianggap final karena proses pencarian masih berlangsung di lokasi yang terdampak.

Di Mashghara, serangan disebut terjadi sedikitnya 10 kali dalam rentang sekitar setengah jam. Area yang dihantam merupakan kawasan padat bangunan tempat tinggal, sehingga dampaknya langsung terasa pada warga sipil di sekitar titik ledakan.

Tekanan militer tidak berhenti di Lebanon timur. Militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi infrastruktur Hezbollah dan “teroris” di Lembah Bekaa serta seluruh Lebanon selatan, memperlihatkan skala operasi yang meluas di dua kawasan sekaligus.

National News Agency Lebanon melaporkan pemboman artileri berat di Arnoun, Yohmor al-Shaqif, Zawtar al-Sharqiyah, dan Mayfadoun. NNA juga menyebut serangan menjangkau area sekitar Benteng Beaufort di distrik Nabatieh, menandai makin luasnya wilayah yang berada di bawah tembakan.

Mayfadoun dilaporkan menjadi sasaran serangkaian serangan udara sejak subuh. Di sisi lain, Shahour dan Srifa di distrik Tyre juga ditembaki, menambah daftar titik yang mengalami tekanan militer dalam waktu berdekatan.

Situasi di Lebanon selatan semakin rumit setelah militer Israel mengeluarkan perintah pengungsian bagi warga kota Nabatieh. Juru bicara berbahasa Arab militer Israel, Avichay Adraee, menulis di X bahwa warga harus segera meninggalkan rumah dan bergerak ke utara Sungai Zahrani.

Perintah semacam itu menambah ketidakpastian bagi warga yang sudah hidup di bawah ancaman serangan berulang. Di wilayah yang terus dibayangi konflik, dorongan untuk berpindah tempat menjadi bagian dari tekanan yang menyertai operasi militer.

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan telah mengizinkan serangan yang lebih intensif terhadap Hezbollah di seluruh Lebanon. Kebijakan itu menambah beban pada gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dan baru mulai berlaku bulan lalu, tetapi sejak awal sudah rapuh.

Dari Mashghara, Al Jazeera melaporkan bahwa militer Israel berupaya mengubah situasi keamanan dan menekan Hezbollah agar menghentikan penggunaan drone peledak. Drone itu disebut menyasar tentara Israel di Lebanon selatan dan posisi Israel di utara.

Konflik ini juga terus meninggalkan korban besar di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut lebih dari 3.100 orang telah tewas dalam serangan Israel sejak perang dimulai, sementara lebih dari 9.600 orang terluka dan sedikitnya satu juta orang mengungsi.

Lebanon ikut terseret ke dalam perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada 2 Maret setelah Hezbollah yang bersekutu dengan Teheran melancarkan serangan ke Israel. Hezbollah mengatakan aksinya merupakan balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh Israel pada 28 Februari, serta pelanggaran gencatan senjata yang hampir terjadi setiap hari di Lebanon sejak kesepakatan November 2024.

Baca Juga

Back to top button