Ketika garis depan di Lebanon selatan kembali berguncang, perhatian terhadap gencatan senjata Israel dan Hezbollah ikut menguat. Kedua pihak kini saling menuding sebagai penyebab rapuhnya kesepakatan yang sejatinya dimaksudkan untuk menahan eskalasi di perbatasan.
Di saat ketegangan militer itu belum mereda, Iran juga menggerakkan jalur diplomasi dan keamanan secara bersamaan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan sudah tiba di Saint Petersburg untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah menjalani rangkaian perjalanan cepat ke Islamabad, Muscat, lalu Islamabad lagi dalam beberapa hari terakhir menurut media pemerintah Rusia dan Iran.
Front Lebanon Masih Jadi Akar Masalah
Situasi di Lebanon selatan kembali menjadi pusat perhatian setelah militer Israel menyebut salah satu tentaranya tewas dalam pertempuran di wilayah itu. Area tersebut berada di bawah gencatan senjata sejak pertengahan April, tetapi Israel dan Hezbollah yang didukung Iran sama-sama menegaskan bahwa pihak lawan telah melanggar kesepakatan.
Hezbollah membantah tuduhan yang dilontarkan Benjamin Netanyahu terkait ancaman terhadap gencatan senjata. Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut serangan ke target Israel di Lebanon selatan dan Israel utara sebagai “respons yang sah” atas pelanggaran yang menurut mereka terus terjadi sejak hari pertama pengumuman gencatan senjata sementara.
Netanyahu justru mengambil posisi sebaliknya. Ia menilai tindakan Hezbollah merusak kesepakatan dan menyatakan Israel akan menargetkan kelompok tersebut secara “vigorously”, sambil menegaskan bahwa pelanggaran yang dilakukan Hezbollah pada praktiknya telah “membongkar gencatan senjata”.
Serangan Baru Setelah Peringatan Evakuasi
Ketegangan itu tidak berhenti pada saling tuding. Media resmi Lebanon melaporkan militer Israel mulai menyerang Lebanon selatan pada Minggu setelah lebih dulu mengeluarkan peringatan evakuasi untuk tujuh lokasi.
National News Agency menyebut salah satu serangan udara menghantam Kfar Tibnit. Laporan yang sama juga menyampaikan bahwa sejak awal masih ada informasi mengenai kemungkinan korban luka atau tewas, tetapi rincian pastinya belum dijelaskan.
Rangkaian peringatan evakuasi lalu serangan di sejumlah titik membuat situasi di perbatasan tampak makin sulit dikendalikan. Kondisi itu menambah kesan bahwa gencatan senjata yang berlaku belum benar-benar mampu menahan benturan di lapangan.
Iran Mengencangkan Sikap di Dalam Negeri
Di tengah meningkatnya tekanan regional, Iran juga menunjukkan pendekatan keras terhadap isu keamanan dalam negeri. Pada Minggu, otoritas Iran mengeksekusi seorang pria yang dinyatakan bersalah sebagai anggota kelompok militan Sunni Jaish al-Adl dan terlibat dalam serangan terhadap pasukan keamanan di tenggara, menurut keterangan kehakiman.
Sehari sebelumnya, Iran juga mengumumkan eksekusi terhadap seorang pria lain yang dituduh memberikan informasi intelijen kepada Israel. Dua eksekusi beruntun itu menunjukkan bahwa Teheran memandang spionase dan serangan bersenjata sebagai ancaman serius di saat kawasan sedang memanas.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa Iran tidak hanya menghadapi tekanan dari luar, tetapi juga ingin menegaskan kontrol keamanan di dalam negeri. Dalam konteks konflik yang melebar, pesan keras dari Teheran menjadi bagian dari dinamika yang lebih luas di Timur Tengah.
Diplomasi dan Politik Ikut Bergerak
Kunjungan Abbas Araghchi ke Saint Petersburg menambah lapisan baru dalam situasi yang sudah rumit. Pertemuan dengan Putin menunjukkan bahwa Iran juga membuka jalur politik dan diplomatik ketika tekanan keamanan datang dari banyak arah sekaligus.
Di luar kawasan itu, Donald Trump juga masih menempatkan Iran sebagai fokus perhatiannya. Ia mengatakan penembakan di jamuan makan malam media di Washington pada Sabtu tidak akan membuatnya bergeser dari perang di Iran, lalu menambahkan bahwa dirinya tidak percaya insiden itu berkaitan langsung dengannya.
Pernyataan Trump memperlihatkan bahwa isu Iran tetap berada di pusat perhitungan politiknya, meski ada gangguan keamanan di dalam negeri Amerika Serikat. Dalam situasi seperti ini, ketegangan di Lebanon, langkah keras Iran, dan manuver diplomatik ke Rusia sama-sama memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan kawasan saat ini.





