Ekspansi jaringan menjadi salah satu penopang utama perbaikan kinerja PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) pada kuartal I-2026. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, perseroan membukukan laba periode berjalan Rp 9,43 miliar, lebih tinggi dibandingkan Rp 5,87 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba itu berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah gerai dan naiknya penjualan. Hingga akhir Maret 2026, Fore Kopi mengoperasikan 335 kedai kopi di Indonesia, atau bertambah 19 gerai dibandingkan posisi akhir 2025.
Penjualan naik tajam seiring perluasan gerai
Laporan keuangan konsolidasian yang dikutip dari Money dan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Senin (20/4/2026) menunjukkan pendapatan neto Fore Kopi mencapai Rp 444,46 miliar. Angka tersebut jauh berada di atas realisasi kuartal I-2025 yang sebesar Rp 291,69 miliar.
Kenaikan pendapatan ini memberi dorongan besar pada keseluruhan kinerja operasional perusahaan. Di tengah ekspansi yang terus berjalan sejak tahun lalu, Fore Kopi berhasil menjaga pertumbuhan penjualan tetap kuat dan memperlihatkan bahwa langkah penambahan gerai mulai tercermin pada laporan keuangan.
Laba bruto dan operasional ikut membaik
Dari sisi profitabilitas, laba bruto Fore Kopi naik menjadi Rp 273,67 miliar pada kuartal I-2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bruto perseroan masih berada di level Rp 181,04 miliar.
Meski beban operasional ikut meningkat menjadi Rp 257,41 miliar, perseroan tetap mampu mencatat laba operasional sebesar Rp 16,26 miliar. Setelah itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp 15,18 miliar, yang menandakan aktivitas bisnis masih berada dalam jalur positif meski biaya juga ikut membesar.
Beban pajak penghasilan neto yang dibukukan mencapai Rp 5,75 miliar. Setelah seluruh komponen tersebut diperhitungkan, laba bersih yang dihasilkan Fore Kopi tetap berada di zona hijau dan naik menjadi Rp 9,43 miliar.
Ekuitas membaik, kas menurun karena aktivitas investasi
Perusahaan juga mencatat laba komprehensif sebesar Rp 9,55 miliar, termasuk dari penghasilan komprehensif lain yang berasal dari selisih kurs. Capaian ini menunjukkan kenaikan skala usaha belum sepenuhnya tergerus oleh tekanan biaya yang muncul dari ekspansi.
Dari sisi neraca, total aset Fore Kopi per 31 Maret 2026 tercatat stabil di Rp 1,16 triliun. Rinciannya terdiri atas aset lancar Rp 424,54 miliar dan aset tidak lancar Rp 739,71 miliar.
Posisi ekuitas perusahaan juga menunjukkan perbaikan karena akumulasi rugi menyusut menjadi Rp 168,37 miliar. Angka itu lebih rendah dibandingkan akhir tahun lalu yang masih mencatat akumulasi rugi Rp 177,80 miliar.
Namun, kas dan bank turun menjadi Rp 253,80 miliar dari Rp 327,53 miliar pada Desember 2025. Penurunan tersebut terjadi karena dana dialokasikan untuk aktivitas investasi serta pembayaran kewajiban keuangan.
Ekspansi juga menyasar luar negeri dan lini usaha baru
Selain memperkuat pasar domestik, Fore Kopi juga memiliki empat gerai di Singapura. Kehadiran ini menandakan ekspansi perusahaan tidak berhenti pada penambahan jaringan di dalam negeri, tetapi mulai merambah pasar luar negeri.
Di luar bisnis kopi, perusahaan juga mengembangkan lini donat sebagai bagian dari strategi diversifikasi setelah IPO pada April 2025. Hingga saat ini, unit usaha tersebut telah memiliki tujuh gerai dan ikut melengkapi portofolio bisnis perseroan.
Dengan kombinasi penjualan yang lebih tinggi, laba yang membaik, serta jumlah gerai yang terus bertambah, Fore Kopi memasuki kuartal berikutnya dengan skala operasional yang lebih besar. Perhatian pasar kini akan tertuju pada kemampuan perseroan menjaga laju pertumbuhan tersebut di tengah beban yang masih ikut naik sejalan dengan ekspansi.





