Ebola Masuk Status Darurat Global, Indonesia Perketat Skrining Di Seluruh Pintu Masuk

Lonjakan kewaspadaan terhadap Ebola kini menjadi perhatian utama di Indonesia setelah Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan wabah di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia. Dalam situasi seperti ini, Kementerian Kesehatan memilih bergerak cepat dengan memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk negara.

Fokus utama pemerintah saat ini bukan pada temuan kasus di dalam negeri, melainkan pencegahan agar virus tidak masuk melalui pelaku perjalanan internasional. Kemenkes menegaskan hingga saat ini belum ada kasus Ebola yang terdeteksi di Indonesia.

Pengawasan diperketat dari bandara hingga pelabuhan

Seluruh jalur kedatangan internasional kini berada dalam pengawasan lebih ketat. Pelabuhan dan bandara diminta meningkatkan skrining terhadap para pelaku perjalanan, terutama mereka yang datang dari negara terdampak.

Kementerian Kesehatan juga menyiagakan petugas kesehatan untuk merespons jika ditemukan gejala yang mengarah ke Ebola. Bila ada indikasi kasus, pasien akan dirujuk sesuai prosedur ke rumah sakit berstandar internasional agar penanganannya berlangsung cepat dan aman.

Situasi wabah di Afrika Tengah masih mengkhawatirkan

Langkah antisipatif itu tidak lepas dari perkembangan wabah di Afrika Tengah yang masih menunjukkan penyebaran lintas wilayah. Di Provinsi Ituri, wabah dilaporkan dipicu virus Ebola jenis Bundibugyo.

Berdasarkan data resmi yang disampaikan Kemenkes, hingga laporan itu dibuat tercatat 246 kasus suspek, delapan kasus terkonfirmasi, dan 80 kematian. Tingkat fatalitasnya mencapai 32,5 persen, sehingga situasi ini dinilai memerlukan respons yang sigap.

Kasus yang berkaitan dengan perjalanan juga dilaporkan muncul di Kampala, Uganda, dan Kinshasa. Kondisi ini ikut meningkatkan perhatian karena mobilitas penduduk yang tinggi dapat memperluas risiko penularan.

Pemantauan berjalan sepanjang hari

Kemenkes tidak hanya mengandalkan pemeriksaan di lapangan. Seluruh laporan dari pintu masuk negara juga dipantau melalui sistem kewaspadaan dini dan respons atau SKDR.

Sistem itu terhubung dengan public health emergency operation center atau PHEOC untuk memastikan respons kesehatan berjalan tanpa jeda. Kapasitas laboratorium nasional pun disiagakan penuh agar deteksi bisa dilakukan secepat mungkin.

Apa yang membuat Ebola perlu diwaspadai

Ebola dikenal sebagai penyakit infeksi virus yang dapat mematikan. Kemenkes menjelaskan tingkat fatalitas rata-ratanya sekitar 50 persen, sehingga kewaspadaan menjadi penting meski belum ada kasus di Indonesia.

Ada tiga strain yang kerap memicu wabah, yaitu Ebola virus disease, Sudan virus disease, dan Bundibugyo virus disease. Penularannya terjadi lewat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau benda yang terkontaminasi dari manusia maupun hewan yang terinfeksi.

Virus ini dapat masuk melalui luka pada kulit atau selaput lendir. Gejalanya biasanya muncul mendadak setelah masa inkubasi 2 hingga 21 hari, dengan tanda awal berupa demam, lemas, nyeri otot, dan sakit kepala.

Jika kondisi memburuk, keluhan dapat berkembang menjadi muntah, diare, hingga perdarahan. Karena itu, deteksi dini menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko penyebaran lebih luas.

Imbauan untuk masyarakat dan pelaku perjalanan

Di tengah meningkatnya perhatian publik, Kemenkes meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh hoaks di media sosial. Edukasi yang benar dianggap penting agar kepanikan tidak berkembang tanpa dasar.

Pencegahan sederhana tetap ditekankan, mulai dari perilaku hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan dengan air dan sabun, memakai masker saat sakit, hingga menerapkan etika batuk dan bersin. Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan orang atau hewan yang sedang sakit.

Bagi warga yang baru pulang dari negara terdampak seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda, pemeriksaan segera diperlukan bila muncul demam atau gejala perdarahan dalam 21 hari setelah perjalanan. Kejujuran soal riwayat perjalanan dinilai penting agar petugas kesehatan bisa memutus potensi rantai penularan sejak awal.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button