Situasi pelatnas renang Asian Games yang diikuti Flairene Candrea berubah drastis setelah keputusan efisiensi anggaran dijalankan. Program pemusatan latihan itu dibubarkan secara mendadak, padahal persiapan menuju Asian Games Aichi-Nagoya pada September mendatang belum tuntas.
Dampaknya tidak berhenti pada latihan di kolam. Para atlet juga harus menyesuaikan diri dengan perubahan tempat tinggal karena fasilitas akomodasi yang sebelumnya dipakai di pelatnas ikut terhenti, sehingga rutinitas harian mereka ikut goyah.
Flairene menceritakan kondisi itu saat berada di sela Kejurnas Akuatik Indonesia di Stadion Akuatik GBK. Atlet peraih emas SEA Games Vietnam 2021 itu menegaskan bahwa keputusan pembubaran datang sangat cepat dan membuat situasi persiapan terasa serba tidak pasti.
Ia menyebut pelatnas yang diikutinya baru berjalan sejak awal Maret. Namun, program itu kemudian dihentikan hanya sekitar sebulan kemudian, dengan masa kebersamaan latihan yang terasa sangat singkat bagi para atlet yang masih memburu performa terbaik.
“Jujur pas dikeluarkan itu sedih banget ya. Kok bisa kita dikeluarkan,” kata Flairene, menggambarkan kejutan yang dirasakan saat keputusan itu diumumkan. Ia juga menjelaskan bahwa pemberitahuan keluar dari pelatnas disertai tenggat yang sangat singkat.
Para atlet disebut hanya diberi waktu dua hari untuk check out dari hotel setelah pemberitahuan diterima. Kondisi ini membuat mereka tidak hanya kehilangan tempat latihan terpusat, tetapi juga harus segera mencari penyesuaian baru dalam urusan tempat tinggal dan persiapan harian.
Di tengah penghentian itu, Flairene memahami bahwa alasan utamanya berkaitan dengan kondisi keuangan organisasi. Ia tidak menguraikan detail teknis pembubaran, tetapi menyadari bahwa efisiensi anggaran menjadi faktor yang mendorong keputusan tersebut.
Meski begitu, terdapat informasi bahwa pelatnas kemungkinan akan dibentuk lagi setelah Kejurnas selesai. Skema yang disiapkan disebut tidak akan sama seperti sebelumnya karena kuota akan dipangkas dan proses seleksi atlet akan dibuat lebih ketat.
Artinya, efisiensi anggaran bukan hanya mengubah jadwal latihan, tetapi juga susunan calon skuad. Prioritas disebut akan diberikan kepada atlet yang dinilai memiliki peluang paling besar untuk masuk tim Asian Games.
Bagi Flairene, situasi ini justru membuat Kejurnas Akuatik Indonesia menjadi panggung penting. Ajang tersebut ia lihat sebagai kesempatan untuk menunjukkan performa terbaik sekaligus membuka peluang masuk kembali ke pelatnas jika seleksi ulang benar-benar dilakukan.
Ia menegaskan pentingnya tampil baik dalam kompetisi itu agar namanya tetap dipertimbangkan. “Harus menunjukkan di Kejurnas ini bisa tampil baik dan bisa perform bagus,” ujarnya, menandai bahwa hasil di arena pertandingan menjadi cara paling nyata untuk membuktikan kelayakan seorang atlet.
Di sisi lain, harapan agar pembinaan nasional kembali berjalan tetap mengemuka. Kepastian program, fasilitas, dan dukungan organisasi dinilai penting agar persiapan menuju Asian Games tidak terus terganggu oleh perubahan mendadak yang membebani atlet secara fisik maupun mental.
Bagi para perenang yang masih bersaing memperebutkan tempat di tim, pelatnas bukan hanya soal latihan bersama. Program itu juga menjadi penopang akomodasi, pendampingan, dan kestabilan persiapan saat agenda besar semakin dekat.