Kekuatan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 terlihat bukan dari satu sumber saja, melainkan dari beberapa penggerak yang sama-sama bergerak cepat. Konsumsi masyarakat, investasi, belanja pemerintah, dan sektor-sektor utama di daerah ini saling menopang ketika ketidakpastian global masih membayangi.
Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada periode tersebut mencapai 5,89 persen secara tahunan. Angka ini naik dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,84 persen, sekaligus melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa dan nasional.
Dorongan terbesar datang dari konsumsi rumah tangga yang tetap dominan dalam struktur ekonomi daerah. Sektor ini tumbuh 5,08 persen, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 4,44 persen.
Kenaikan konsumsi itu tidak lepas dari mobilitas masyarakat yang tinggi saat mudik Lebaran 2026. Momentum Ramadan dan Idulfitri juga ikut mengerek belanja masyarakat dan mempercepat perputaran aktivitas ekonomi di banyak wilayah.
Optimisme warga Jawa Tengah pun ikut membaik. Indeks Keyakinan Konsumen Jawa Tengah naik dari 117,56 menjadi 123,82, yang memperlihatkan sentimen masyarakat bergerak seiring meningkatnya aktivitas konsumsi.
Di sisi lain, investasi juga tampil sebagai penopang penting. Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 9,61 persen, didorong pembangunan pabrik di kawasan industri serta berbagai proyek strategis yang masih berjalan.
Belanja pemerintah turut memberi tenaga tambahan bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Komponen ini melonjak 19,36 persen, terutama karena percepatan pembangunan jalan dan infrastruktur pariwisata menjelang arus mudik Lebaran.
Perbaikan infrastruktur memberi dampak lanjutan pada aktivitas ekonomi. Arus barang, jasa, dan mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar di banyak wilayah, sehingga pergerakan ekonomi daerah ikut terdorong.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi sektor terbesar di Jawa Tengah. Pangsa sektor ini mencapai 32,69 persen terhadap PDRB Jawa Tengah.
Meski sempat terdampak gangguan distribusi akibat banjir di sejumlah wilayah, industri pengolahan tetap tumbuh 4,04 persen. Kinerja itu menunjukkan basis produksi daerah masih terjaga di tengah berbagai hambatan.
Sektor konstruksi bahkan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 11,91 persen. Pembangunan proyek strategis, kawasan industri, dan fasilitas pelayanan publik menjadi penopang utama laju sektor ini.
Kombinasi industri pengolahan dan konstruksi memperlihatkan bahwa aktivitas produksi serta pembangunan masih berjalan kuat. Kedua sektor tersebut sama-sama memberi kontribusi penting bagi ekonomi Jawa Tengah pada awal tahun ini.
Sektor jasa juga ikut merasakan dorongan dari momentum Ramadan dan Lebaran. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 14,14 persen, sejalan dengan meningkatnya okupansi hotel dan aktivitas masyarakat selama periode tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menilai rangkaian data itu menunjukkan daya tahan ekonomi Jawa Tengah masih kuat. Ia menegaskan konsumsi dan investasi tetap menjadi mesin utama pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
Source: metrojateng.com




