Dorongan AI Dan Surya Mengerek Energi Bersih AS, Target 60 Gigawatt Makin Dekat

Kebutuhan listrik yang terus melonjak membuat pasar energi bersih di Amerika Serikat tetap bergerak cepat, meski tekanan dari pemerintah federal tidak mereda. Karena itu, proyeksi penambahan kapasitas sekitar 60 gigawatt pada 2026 menjadi sorotan besar, sebab angka tersebut berpotensi mencetak rekor baru dan menunjukkan bahwa laju ekspansi belum mudah diperlambat.

Dorongan utama datang dari tenaga surya, penyimpanan baterai, dan tenaga angin. Tiga sumber ini masih menjadi penyumbang pertumbuhan paling besar, sementara permintaan baru dari pusat data kecerdasan buatan ikut memperkuat kebutuhan atas pasokan listrik yang besar dan stabil.

Laporan tahunan American Clean Power Association atau ACP menempatkan proyeksi itu di batas atas estimasi sejumlah lembaga konsultan, termasuk BloombergNEF, S&P Global, dan Wood Mackenzie. Jika target 60 gigawatt benar-benar tercapai, kenaikannya akan sekitar 20 persen dibanding capaian tahun sebelumnya, ketika total instalasi energi terbarukan di AS sudah menembus 50 gigawatt.

Permintaan listrik jadi penggerak utama

ACP menilai pasar energi bersih masih punya tenaga besar karena kebutuhan listrik naik lebih cepat. Dalam penjelasan yang dikutip Bloombergtechnoz, kelompok industri itu menekankan bahwa pertumbuhan permintaan membuat kapasitas baru harus segera dibangun.

Kondisi ini memberi ruang bagi energi bersih untuk tampil sebagai salah satu opsi tercepat dan paling murah dalam menambah daya. Di tengah kebutuhan yang makin mendesak, proyek-proyek energi terbarukan tetap relevan meski arah kebijakan federal tidak selalu mendukung.

Tekanan kebijakan belum memadamkan proyek

Sejak Januari 2025, pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya memperlambat pengembangan proyek tenaga surya dan angin. Langkahnya mencakup penundaan perizinan serta penghentian sejumlah insentif pajak federal yang selama ini membantu pengembang energi terbarukan.

Meski demikian, proyeksi instalasi tetap tinggi. Ini menunjukkan banyak proyek besar masih berjalan, terutama karena sebagian sudah lebih dulu masuk tahap pembangunan sebelum pergantian kepemimpinan di Gedung Putih.

Perdebatan soal subsidi dan keandalan pasokan

Pemerintah federal mengkritik ketergantungan energi terbarukan pada subsidi negara dan mempertanyakan stabilitas pasokannya. Kritik itu memperlihatkan perdebatan yang lebih luas mengenai arah kebijakan energi di Amerika Serikat ketika kebutuhan listrik terus meningkat.

ACP menolak anggapan bahwa penundaan proyek akan cukup untuk menahan lonjakan permintaan. Dalam surat pengantar laporan tahunannya, CEO ACP Jason Grumet menulis, “Dengan lonjakan permintaan listrik yang belum pernah kita lihat dalam satu generasi, negara ini akan membutuhkan setiap megawatt yang dapat dibangunnya.”

Pernyataan itu menegaskan bahwa penambahan kapasitas bukan sekadar target industri. Bagi sistem kelistrikan, itu sudah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi agar pasokan tetap aman dan memadai.

Surya dan baterai paling menonjol

Di antara sumber pertumbuhan yang dihitung ACP, tenaga surya dan baterai tampak paling dominan dalam mendorong potensi rekor 60 gigawatt. Keduanya dinilai mampu menjawab kebutuhan sistem listrik yang harus lebih fleksibel mengikuti kenaikan permintaan secara cepat.

Tenaga angin tetap memegang peran penting dalam ekspansi energi bersih di AS. Namun, perhatian pasar saat ini memang lebih banyak tertuju pada kombinasi surya dan penyimpanan energi karena keduanya dianggap paling siap menjawab kebutuhan penambahan daya dalam waktu relatif singkat.

Dengan komposisi itu, industri energi bersih di Amerika Serikat masih memiliki ruang tumbuh yang kuat meski dukungan kebijakan federal tidak selalu searah. Fokus kini tertuju pada kelancaran izin dan penyelesaian proyek yang sudah berjalan, karena dari situlah target 60 gigawatt akan sangat ditentukan.

Baca Juga

Back to top button