Dolar Menguat Dan Minyak Melonjak, Rupee Masih Bertahan Di Rp17.150

Pasar keuangan kembali menunjukkan sikap hati-hati ketika rupiah berusaha bertahan di area Rp17.150 per dolar AS. Tekanan datang dari penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah yang sama-sama membuat investor lebih waspada terhadap arah aset berisiko.

Pada awal perdagangan, rupiah sempat bergerak lebih kuat dan mencatat penguatan 0,23 persen. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloombergtechnoz, laju itu kemudian menyempit hingga rupiah berada di Rp17.168 per dolar AS atau menguat 0,15 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa dorongan positif di pembukaan pasar belum cukup kuat untuk melawan tekanan eksternal yang masih dominan.

Salah satu penahan utama datang dari indeks dolar AS yang naik ke 98,35. Penguatan mata uang Amerika Serikat terjadi di tengah memanasnya tensi antara AS dan Iran, sehingga pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Dalam kondisi seperti ini, mata uang Asia ikut bergerak beragam karena sentimen global masih berubah cepat.

Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia ikut menjadi perhatian karena naik 5,51 persen ke US$95,36 per barel. Kenaikan yang bertahan pada level tinggi menambah tekanan pada sentimen pasar, sebab faktor geopolitik dan energi saling memperkuat kekhawatiran investor. Bagi Indonesia, kondisi ini sensitif karena harga minyak sudah melampaui asumsi dalam APBN.

Harga minyak yang terus tinggi dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah jika beban energi meningkat lebih lama. Situasi tersebut juga membuka risiko tambahan berupa inflasi impor, terutama bila biaya energi global tetap tinggi dan menular ke berbagai harga barang serta jasa. Karena itu, pasar memandang perkembangan minyak sebagai salah satu faktor yang bisa memperbesar tekanan pada ekonomi domestik.

Kehati-hatian investor tidak hanya terlihat di pasar valas, tetapi juga tercermin dari pergerakan obligasi. Imbal hasil tenor pendek dan menengah naik, yang mengisyaratkan adanya aksi jual di tengah kekhawatiran terhadap perkembangan global. Yield tenor 1 tahun tercatat naik 4 basis poin menjadi 5,6 persen, sementara tenor 3 tahun naik 3,4 bps ke 6,06 persen.

Pada tenor yang lebih panjang, obligasi juga menunjukkan penyesuaian. Yield tenor 4 tahun berada di 6,29 persen dan tenor 5 tahun di 6,32 persen, menandakan pasar masih menimbang arah sentimen dengan nada defensif. Kondisi ini selaras dengan meningkatnya minat terhadap aset aman saat ketidakpastian internasional belum mereda.

Untuk perdagangan spot, rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas dalam waktu dekat dengan kecenderungan melemah. Rentang pergerakan mata uang Indonesia diperkirakan berada di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS, sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah tekanan global. Selama tensi geopolitik dan harga energi masih tinggi, rupiah diperkirakan tetap sensitif terhadap perubahan sentimen pasar internasional.

Baca Juga

Back to top button