Bagi pemegang saham, daya tarik utama Bank Mandiri kali ini bukan hanya besarnya dividen yang dibagikan, tetapi juga sinyal bahwa kinerja perseroan masih berada dalam jalur yang kuat. Dari laba bersih konsolidasi tahun buku 2025 sebesar Rp56,3 triliun, bank pelat merah ini menyalurkan dividen tunai Rp44,47 triliun atau setara 79 persen laba.
Dalam pembagian itu, setiap saham mendapat Rp477. Sebanyak Rp100 per saham sudah lebih dulu dibayarkan sebagai dividen interim pada Januari, sedangkan Rp377 per saham menjadi dividen final yang akan diterima berikutnya.
Pembagian terbesar dalam sejarah perseroan
Nilai dividen tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Bank Mandiri. Besarnya porsi laba yang dibagikan langsung menempatkan keputusan ini sebagai salah satu sorotan utama di pasar karena menunjukkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas sekaligus memberi imbal hasil besar kepada pemegang saham.
Meski porsinya tinggi, perusahaan tetap menahan sebagian laba untuk kebutuhan internal. Tercatat 21 persen laba bersih atau Rp11,82 triliun tidak dibagikan dan masuk sebagai laba ditahan.
Dana itu disiapkan untuk mendukung pengembangan bisnis dan menjaga ruang pertumbuhan perseroan ke depan. Komposisi ini menunjukkan bahwa pembagian keuntungan tetap diimbangi dengan kebutuhan modal untuk ekspansi.
Kinerja operasional masih tumbuh
Besarnya dividen tidak dilepaskan dari performa bisnis yang masih solid. Sepanjang 2025, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 13,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.894,98 triliun.
Di saat yang sama, total aset konsolidasi juga naik 16,6 persen menjadi Rp2.829,94 triliun. Dua angka ini menunjukkan aktivitas pembiayaan dan kapasitas bisnis perseroan masih bergerak kuat.
Pertumbuhan kredit menandakan mesin bisnis utama tetap aktif, sementara kenaikan aset memperlihatkan basis usaha yang semakin besar. Kondisi tersebut memberi ruang bagi perseroan untuk membagikan dividen besar tanpa mengorbankan arah ekspansi.
Jika mengacu pada harga penutupan saham di level Rp4.430, estimasi imbal hasil dividen final berada di 8,51 persen. Angka itu mempertegas daya tarik saham Bank Mandiri di tengah kinerja keuangan yang tetap bertumbuh.
RUPS juga setujui perubahan pengurus
Selain keputusan dividen, rapat umum pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan pengurus. Timothy Utama kembali diangkat sebagai Direktur Operations, sedangkan Muhammad Yusuf Ateh diberhentikan dengan hormat dari jabatan Komisaris.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammad Yusuf Ateh selama menjabat. Ia menegaskan penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan dalam mendukung pengembangan dan akselerasi bisnis perseroan.
Riduan kini memimpin jajaran direksi baru bersama Henry Panjaitan sebagai Wakil Direktur Utama. Pada jajaran komisaris, Zulkifli Zaini tetap menjabat sebagai Komisaris Utama dengan Rudy Salahuddin Ramto sebagai wakilnya.
Buyback saham disiapkan hingga Rp1,16 triliun
Rapat pemegang saham juga menyetujui pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp1,16 triliun. Program itu akan berjalan selama 12 bulan sejak memperoleh persetujuan rapat.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut fundamental dan profitabilitas perseroan masih kuat serta konsisten. Ia menilai valuasi saham belum sepenuhnya mencerminkan kondisi tersebut, sehingga buyback dipandang sebagai langkah strategis untuk memberi nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Saham hasil buyback akan ditempatkan dalam akun saham tresuri. Perseroan kemudian berencana memanfaatkannya untuk program kepemilikan saham bagi karyawan dan manajemen sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan dividen jumbo, pertumbuhan bisnis yang masih solid, dan buyback yang sudah disetujui, Bank Mandiri menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara penghargaan kepada pemegang saham dan kesiapan memperkuat ekspansi usaha.





