Program qurban yang digerakkan PDIP Jawa Timur tahun ini menempatkan warga kecil sebagai sasaran utama. Sebanyak 485 ekor sapi disalurkan agar manfaat Iduladha tidak berhenti pada seremoni ibadah, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Penyaluran hewan qurban itu diarahkan ke berbagai titik yang dekat dengan kehidupan warga. Kantor partai, pondok pesantren, masjid, organisasi keagamaan, hingga panti asuhan menjadi jalur distribusi yang dipilih untuk memastikan daging qurban sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menilai Iduladha selalu membawa dua makna sekaligus. Di satu sisi ada dimensi spiritual, tetapi di sisi lain ada tanggung jawab sosial yang tidak kalah penting bagi keluarga besar partai di daerah tersebut.
Menurut Said, rutinitas menjalankan qurban merupakan bagian dari kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Ia juga menekankan harapan agar warga yang hidup dalam keterbatasan tetap bisa merasakan kebahagiaan dan berkah Iduladha.
Sorotan itu semakin relevan karena kondisi sosial ekonomi Jawa Timur masih menyisakan tantangan besar. Said menyinggung tingginya porsi pekerja sektor informal di provinsi ini, yang menurutnya mencapai 64,4 persen dari total penduduk bekerja.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di 59,4 persen. Dalam pandangannya, situasi itu membuat banyak warga bekerja tanpa kepastian penghasilan yang layak dan tanpa perlindungan kerja yang memadai.
Warga rentan dan beban hidup harian
Kondisi pekerja informal juga berarti banyak orang belum menikmati hak-hak yang biasa melekat pada pekerja formal. Said menyebut jaminan kesehatan, jaminan pensiun, dan pesangon belum tentu mereka dapatkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Karena itu, penyaluran 485 sapi qurban diposisikan sebagai langkah yang langsung menyentuh kebutuhan sosial warga. Target utamanya adalah masyarakat kecil yang paling rentan terdampak tekanan ekonomi dan sangat bergantung pada dukungan lingkungan sekitar.
Melalui jaringan kantor DPD dan DPC PDIP se-Jawa Timur, penyaluran dilakukan agar jangkauannya lebih luas. Pola ini membuat distribusi tidak berhenti di satu titik, melainkan menyebar ke berbagai daerah dengan sasaran lembaga sosial dan rumah ibadah.
Makna sosial di balik qurban
Bagi PDIP Jawa Timur, qurban bukan sekadar kegiatan keagamaan tahunan. Program ini juga menjadi cara untuk menjaga kedekatan dengan warga kecil di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya ringan.
Pondok pesantren, masjid, organisasi keagamaan, dan panti asuhan dipilih karena berada dekat dengan masyarakat yang membutuhkan. Dengan begitu, manfaat qurban diharapkan hadir lebih merata dan tidak hanya dirasakan dalam lingkup terbatas.
Langkah itu memperlihatkan bahwa solidaritas sosial masih menjadi bagian penting dari cara partai merespons kondisi warga. Di tengah tekanan ekonomi, perhatian semacam ini dipandang sebagai upaya menghadirkan Iduladha yang lebih bermakna bagi kelompok yang paling rentan.
Source: rejogja.republika.co.id




