Di tengah pasar yang masih bergerak hati-hati, dua emiten justru mengambil arah yang berbeda. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk atau KRAS menyiapkan langkah pertumbuhan yang agresif, sementara PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) memilih langsung membagikan keuntungan kepada pemegang saham.
Perbedaan strategi itu muncul saat IHSG masih berada di bawah tekanan. Kondisi tersebut membuat langkah korporasi yang jelas, baik untuk ekspansi maupun distribusi dividen, menjadi lebih menonjol di mata pelaku pasar.
KRAS arahkan fokus ke penguatan bisnis
KRAS memasang sasaran pendapatan Rp20 triliun pada 2026. Di saat yang sama, perseroan juga membidik laba bersih minimal Rp2 triliun sebagai penopang target tersebut.
Target itu tidak berdiri sendiri. Krakatau Steel menyiapkan volume penjualan domestik sebesar 1,2 juta ton per tahun untuk membantu pencapaian kinerja yang dibidik.
Dari sisi pendanaan, perusahaan juga menyiapkan modal kerja awal Rp5 triliun. Dana ini diarahkan untuk memperkuat operasional sekaligus menekan beban bunga yang sebelumnya berada di kisaran 20 hingga 25 persen.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa KRAS masih menempatkan pemulihan kinerja sebagai prioritas. Fokusnya bukan hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga membenahi efisiensi keuangan agar struktur bisnis lebih sehat.
DKFT pilih berbagi dividen tunai
Berbeda dengan KRAS yang menonjolkan agenda pertumbuhan, DKFT justru bergerak ke sisi pembagian hasil. Perseroan menyalurkan dividen tunai sebesar Rp390,31 miliar kepada pemegang saham.
Nilai itu setara dengan Rp70 per saham. Jumlah tersebut juga mencerminkan sekitar 68 persen dari laba bersih DKFT yang tercatat sebesar Rp573,27 miliar.
Besarnya porsi dividen memberi sinyal bahwa perusahaan memiliki ruang untuk mengembalikan keuntungan kepada investor. Keputusan ini datang setelah DKFT membukukan laba yang lebih tinggi dibandingkan posisi sebelumnya yang sebesar Rp411,95 miliar.
Kenaikan laba tersebut menjadi salah satu dasar kuat bagi pembagian dividen dalam jumlah besar. Pasar pun dapat membaca bahwa profitabilitas dan arus kas perusahaan masih terjaga.
Bisnis nikel masih jadi penopang utama
Kontributor terbesar pendapatan DKFT masih berasal dari penjualan nikel. Porsinya mencapai 96,38 persen, sehingga ketergantungan perseroan terhadap komoditas ini masih sangat tinggi.
Meski struktur bisnisnya cukup terkonsentrasi, peningkatan laba menunjukkan aktivitas usaha perusahaan tetap solid. Dalam konteks itu, dividen besar yang dibagikan DKFT memperlihatkan bahwa kinerja operasional masih mampu menopang imbal hasil bagi pemegang saham.
Jadwal cum date dividen di pasar reguler ditetapkan pada 30 April. Adapun pembayaran dividen final akan dilakukan pada 12 Mei.
IHSG masih memberi latar pasar yang rapuh
Sorotan terhadap dua emiten tersebut terjadi ketika IHSG ditutup turun 0,32 persen ke level 7.106,52 pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Pada sesi yang sama, investor asing juga mencatat aksi jual bersih Rp2,01 triliun di pasar reguler.
Pergerakan sektor pun tidak seragam. Sektor energi terkoreksi paling dalam sebesar 1,21 persen, sedangkan sektor industri dasar justru memimpin penguatan dengan kenaikan 1,48 persen.
Pola itu menunjukkan bahwa pasar semakin selektif dalam merespons sentimen. Di tengah tekanan indeks, emiten yang memiliki agenda korporasi jelas tetap bisa menarik perhatian investor.
Sentimen eksternal ikut mewarnai
Di luar aksi emiten, Otoritas Jasa Keuangan disebut tengah menjalin komunikasi konstruktif dengan MSCI. OJK juga berencana berkoordinasi dengan World Bank untuk menjaga kepercayaan terhadap pasar modal nasional.
Dalam situasi seperti ini, langkah KRAS dan DKFT memperlihatkan dua pendekatan yang sama-sama relevan. Satu emiten memilih membangun fondasi untuk pertumbuhan jangka menengah, sementara emiten lainnya memanfaatkan laba untuk memberikan imbal hasil langsung kepada pemegang saham.





