Di tengah ancaman Girigo, Yoo Se Ah justru terlihat paling berat menanggung beban yang tidak kasatmata. Karakternya di If Wishes Could Kill tidak hanya dipaksa menghadapi teror dari aplikasi terkutuk, tetapi juga harus hidup bersama rasa bersalah yang terus menekan dari dalam.
Lapisan emosional itu membuat Yoo Se Ah terasa lebih kompleks dari sekadar siswi SMA yang dikenal kuat dan hampir menembus tim nasional sebagai atlet. Di balik sikap tegar dan kemampuannya bertahan, ada trauma yang membentuk cara ia memandang orang lain, keputusan yang ia ambil, dan penyesalan yang sulit ia lepaskan.
Beban yang lahir dari tragedi di depan mata
Salah satu momen paling menyakitkan yang membayangi Yoo Se Ah adalah saat ia menyaksikan Choi Hyeong Wook mengakhiri hidup karena ulah hantu di dalam aplikasi Girigo. Sebelum tragedi itu terjadi, Choi Hyeong Wook sempat menangis dan meminta pertolongan kepadanya, tetapi Yoo Se Ah tidak mampu mencegah akhir yang buruk.
Peristiwa tersebut meninggalkan luka emosional yang dalam karena terjadi tepat di hadapannya. Dari situ, beban rasa bersalahnya tidak hanya terkait pada apa yang ia lihat, tetapi juga pada ketidakmampuan dirinya untuk melakukan apa pun ketika seseorang benar-benar membutuhkan bantuan.
Rangkaian kejadian yang mulai masuk akal
Setelah kematian Choi Hyeong Wook, Yoo Se Ah tidak lagi memandang peristiwa itu sebagai kejadian tunggal. Ingatannya kembali pada malam sebelumnya, ketika Kim Geon Woo mengirim video permintaan yang justru membuat kekasihnya berada dalam situasi berbahaya.
Hubungan antara permintaan video itu dan jadwal latihan akhir pekan membuat Yoo Se Ah mulai memahami bahwa ada pola yang saling terhubung. Dari sana, ia menyadari bahwa rangkaian kejadian di sekelilingnya bukan sekadar kebetulan, melainkan berhubungan dengan ancaman yang lebih besar.
Luka lama yang tidak pernah benar-benar selesai
Rasa bersalah Yoo Se Ah ternyata sudah tertanam jauh sebelum kejadian dengan Girigo. Saat masih duduk di bangku SMP, ia kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakaan mobil ketika mereka pulang setelah dirinya menang dalam pertandingan.
Kecelakaan itu disebut sangat parah hingga wajah kedua orangtuanya tak dapat dikenali lagi. Tragedi tersebut juga berkaitan dengan momen saat Yoo Se Ah tanpa sengaja memecah konsentrasi ayahnya yang sedang mengemudi, sehingga rasa bersalah yang ia bawa sejak kecil menjadi semakin berlapis.
Beban semacam itu menjelaskan mengapa Yoo Se Ah tidak dibangun sebagai tokoh yang hanya kuat secara fisik. Kekuatannya justru tumbuh dari luka yang tidak selesai, dan dari upaya terus-menerus untuk tetap berdiri meski masa lalunya terus menariknya ke titik paling rapuh.
Rahasia yang menguji hubungan pertemanan
Masalah Yoo Se Ah tidak berhenti pada duka keluarga dan teror Girigo. Sebelum menjadi pasangan, ia dan Kim Geon Woo dikenal sebagai sahabat dalam kelompok lima sekawan, bersama Choi Heong Wook, Lim Na Ri, dan Kang Ha Joon.
Karena tidak ingin hubungan asmara mereka merusak persahabatan, Yoo Se Ah memilih menyimpannya rapat-rapat. Keputusan itu membuatnya merasa seolah mengkhianati teman-temannya sendiri, meski di sisi lain ia juga berusaha menjaga agar lingkaran pertemanan mereka tetap utuh.
Penyesalan baru di alam roh
Rasa bersalah Yoo Se Ah kembali mengemuka saat ia bertarung dengan Lim Na Ri di alam roh yang dibuat arwah Kwon Si Won. Dalam situasi itu, ia berusaha menghancurkan benda kutukan yang menjadi sumber dari Girigo, tetapi Lim Na Ri justru menghalanginya dan berusaha membunuhnya.
Setelah Yoo Se Ah membuat Lim Na Ri tak sadarkan diri dan kembali ke alam manusia, muncul dugaan bahwa Lim Na Ri masih terjebak di alam roh. Fakta itu menambah penyesalan baru bagi Yoo Se Ah, karena ia harus menanggung kemungkinan telah meninggalkan sahabatnya di tempat yang berbahaya.
Pada titik inilah If Wishes Could Kill memperlihatkan bahwa teror supranatural bukan satu-satunya pusat perhatian. Serial ini juga menyoroti bagaimana rasa bersalah dapat tumbuh dari duka keluarga, kegagalan menolong orang lain, rahasia pertemanan, hingga konsekuensi dari keputusan yang diambil dalam situasi genting.
Source: www.idntimes.com




