Devotion Tetap Disimpan Nina Freeman, Horor Keluarga Yang Ia Anggap Terlalu Berharga Untuk Dihapus

Bagi Nina Freeman, Devotion bukan sekadar game horor yang pernah singgah di PC-nya. Ia memilih untuk membiarkannya tetap ada di library Steam, meski game itu sudah lama tidak tersedia secara resmi dan nasibnya di pasar digital terlanjur rumit.

Sikap itu menunjukkan betapa besar nilai yang ia lihat dalam karya Red Candle Games tersebut. Freeman menempatkan Devotion sebagai salah satu dari lima game favorit sepanjang masa, dan menurutnya game itu termasuk horor terbaik yang pernah dibuat.

Yang membuat Devotion begitu menonjol di mata Freeman bukan hanya suasana mencekamnya. Ia menilai kekuatan game ini justru datang dari drama keluarga yang dibangun di dalam cerita, bukan dari ancaman visual atau jump scare semata.

Di dalamnya, Devotion memadukan kisah keluarga, hubungan ayah dan anak perempuan yang sakit, serta pergulatan iman. Perpaduan itu membuat pengalaman bermain terasa lebih dalam dan lebih emosional dibanding horor yang hanya mengandalkan ketegangan sesaat.

Freeman bahkan menyebut game itu sebagai karya yang bagus, tetapi juga tragis. Sebutan itu merujuk pada nasib Devotion yang sulit diakses secara normal oleh banyak pemain setelah cepat diblokir di Steam.

Pemicu pembatasan itu berkaitan dengan meme tentang presiden China yang disebut ikut tersertakan secara tidak sengaja. Bagi Freeman, keadaan tersebut justru memperkuat kesan menyedihkan terhadap sebuah game yang menurutnya seharusnya bisa dimainkan oleh semua orang.

Karena alasan itu, ia merasa tidak ada alasan untuk menghapus Devotion dari PC miliknya. Menyimpannya di perpustakaan digital menjadi bentuk kecil perlindungan terhadap game yang dianggap penting secara artistik maupun emosional.

Freeman juga mengatakan bahwa ia mungkin termasuk sedikit orang yang masih menyimpan game itu di library Steam mereka. Pilihan itu membuat Devotion terasa lebih dari sekadar judul yang pernah dimainkan lalu dilupakan.

Latar belakang Freeman membantu menjelaskan kenapa pandangannya terhadap game naratif seperti ini begitu kuat. Ia dikenal lewat Cibele dan Last Call, lalu bekerja sebagai level designer di Tacoma dan Open Roads, serta pernah menjadi writer dan principal narrative designer di Lost Records: Bloom & Rage.

Saat ini Freeman masih mengerjakan proyek baru yang belum diumumkan bersama Don’t Nod, dan juga game horor indie Size Zero bersama suaminya, Jake Jeffries. Selera naratifnya yang konsisten terlihat dari ketertarikannya pada game yang memberi ruang bagi emosi, tema keluarga, dan lapisan cerita yang tidak langsung terbuka seluruhnya.

Pilihannya pada Devotion sejalan dengan apresiasinya terhadap Scarlet Hollow, yang masih terpasang di Steam Deck miliknya setelah tamat. Ia menyebut struktur bercabang game itu sebagai yang paling kompleks yang pernah ia mainkan.

Ia juga sedang memainkan Angeline Era di Steam Deck dan menyebutnya indah dimainkan di perangkat tersebut. Freeman turut memuji dua kreatornya, Melos dan Marina, sebagai pengembang indie yang sangat produktif dan ambisius.

Kebiasaan bermainnya juga menunjukkan minatnya pada game dengan sistem yang kuat. Dota 2 menjadi judul dengan waktu bermain tertinggi di akun Steam miliknya, mencapai 2.101 jam, jauh di atas Divinity: Original Sin 2 yang berada di angka 241 jam.

Freeman mengatakan ia mulai memainkan Dota 2 pada awal hubungannya dengan suaminya, yang juga menyukai game itu. Bagi keduanya, game tersebut dulu sempat menjadi ritual kencan sebelum waktu bermainnya berkurang setelah memiliki anak.

Di tengah banyak pilihan dan selera yang luas itu, Devotion tetap punya tempat khusus. Bagi Freeman, kombinasi cerita keluarga, tema iman, dan statusnya yang kontroversial membuat game tersebut layak dipertahankan, bukan dihapus.

Exit mobile version