Kilau emas di sejumlah bangunan Timur Tengah tidak hanya muncul untuk memikat mata. Pada banyak kasus, lapisan itu juga dipakai untuk membentuk identitas, menegaskan nilai religius, dan memberi karakter visual yang mudah dikenali dari jauh.
Karena itu, bangunan-bangunan berlapis emas di kawasan ini sering menyimpan cerita yang lebih besar daripada sekadar kemewahan. Dari masjid bersejarah sampai hotel ikonik, emas hadir bersama fungsi arsitektur, simbol budaya, dan detail teknis yang menonjolkan skala pembangunannya.
Emas sebagai bahasa identitas
Salah satu contoh paling dikenal adalah Dome of the Rock di Yerusalem. Bangunan ini termasuk monumen Islam tertua yang masih berdiri, dan bagian dalamnya dipenuhi desain geometris serta floral tanpa figur manusia atau hewan sesuai prinsip anikonisme dalam seni Islam.
Kubah emasnya yang sangat mencolok awalnya dibuat dari tembaga atau timah. Kini, siluet bangunan itu menjadi penanda visual yang kuat dan mudah terlihat dari kejauhan.
Pilihan material berlapis emas juga tampak jelas pada Masjid Agung Sultan Qaboos di Muskat. Masjid ini dibangun selama enam tahun dan diresmikan pada 2001 untuk memperingati 30 tahun masa pemerintahan Sultan Qaboos.
Kompleksnya mencakup 40.000 meter persegi di atas lahan 416.000 meter persegi. Daya tarik utamanya meliputi lampu setinggi 14 meter, kristal swarovski, dan lapisan emas 24 karat yang pengerjaannya memakan waktu lebih dari empat tahun.
Skala besar dalam arsitektur modern
Jika Masjid Agung Sultan Qaboos menonjol lewat detail interiornya, Masjid Raya Sheikh Zayed di Abu Dhabi memperlihatkan kemewahan berlapis emas dalam skala yang lebih luas. Proyek ini melibatkan Webuild Group dan memakai material terbaik dari berbagai negara, termasuk emas, kristal, marmer, dan batu mulia.
Di dalamnya, lampu gantung swarovski raksasa menjadi salah satu daya tarik utama. Pilar berbentuk pohon kurma terbalik yang dilapisi emas 24 karat juga memperkuat kesan monumental pada bangunan ini.
Kombinasi material tersebut tidak hanya membentuk tampilan yang mewah. Bangunan ini juga tampil sebagai simbol persatuan dalam sebuah karya budaya yang ikonik.
Dari warisan maritim sampai rekayasa di tepi laut
Burj Al-Arab di Dubai menunjukkan bagaimana emas masuk ke dalam proyek yang sangat identik dengan ambisi kota tersebut. Hotel ini dibuka pada 1999, berdiri di atas pulau buatan, dan memakai desain menyerupai layar kapal dhow tradisional Arab sebagai penanda warisan maritim kawasan itu.
Strukturnya mencapai 321 meter dan dibangun dengan teknik modern untuk menghadapi tantangan alam di lepas pantai Teluk Arab. Di bagian dalam, hotel ini menampilkan marmer statuario langka, ribuan meter persegi lapisan emas 24 karat, dan puluhan ribu kristal swarovski.
Kubah yang pernah hancur lalu dibangun kembali
Kisah berbeda datang dari Masjid Al-Askari di Samarra. Kubah emasnya sempat hancur akibat serangan bom pada 22 Februari 2006, yang bukan hanya merusak struktur berusia lebih dari 1.100 tahun, tetapi juga memicu kekerasan sektarian besar di Irak.
Pada musim panas 2009, kubah dan menara masjid itu berhasil didirikan kembali lalu dilapisi emas sepenuhnya. Pemulihan tersebut menempatkan bangunan ini kembali sebagai salah satu situs tersuci bagi umat Muslim Syiah.
Lebih dari sekadar tampilan mewah
Deretan bangunan berlapis emas di Timur Tengah memperlihatkan bahwa material ini dipakai untuk fungsi yang jauh melampaui dekorasi. Emas membantu memanipulasi cahaya, memperkuat kesan spiritual, dan dalam konteks tertentu ikut mendukung stabilitas suhu di dalam ruangan.
Dari Yerusalem sampai Dubai, lapisan emas menjadi bagian dari bahasa visual yang khas di kawasan ini. Di tangan para perancangnya, material mulia itu berubah menjadi simbol identitas, elemen estetika, dan hasil rekayasa sipil yang menonjol.
Source: www.idntimes.com




