Kinerja Bank Mandiri pada kuartal I/2026 menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan masih menjadi mesin utama pertumbuhan perusahaan. Di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya pulih, penyaluran kredit bank pelat merah ini justru melaju lebih cepat dari rata-rata industri dan mempertegas fungsinya sebagai penopang pembiayaan sektor riil.
Hingga periode tersebut, kredit Bank Mandiri tercatat mencapai Rp1.530 triliun atau tumbuh 17,4% secara tahunan. Angka ini jauh di atas pertumbuhan kredit industri perbankan yang berada di level 9,37% YoY, sehingga laju Bank Mandiri terlihat menonjol dibanding pasar secara umum.
Fokus pembiayaan masih diarahkan ke aktivitas produktif
Pertumbuhan kredit itu tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh strategi penyaluran yang menempatkan sektor produktif sebagai sasaran utama. Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyebut sinergi perusahaan diarahkan ke UMKM, ekonomi kreatif, dan penguatan ekosistem digital.
Arah pembiayaan tersebut membuat ekspansi kredit tidak terkonsentrasi pada satu segmen saja. Bank Mandiri berupaya menjangkau kebutuhan pelaku usaha di berbagai lapisan ekonomi agar pertumbuhan bisnis tetap sejalan dengan aktivitas riil di lapangan.
Dalam konteks perbankan, penyaluran ke sektor riil menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kegiatan usaha, perputaran ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja. Karena itu, laju kredit yang tinggi memberi sinyal bahwa fungsi intermediasi Bank Mandiri masih berjalan kuat.
Dana murah ikut menopang ruang ekspansi
Di sisi pendanaan, Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid. DPK perseroan mencapai Rp1.675 triliun dan naik 21,1% YoY pada periode yang sama.
Salah satu penopang utamanya datang dari dana murah atau CASA, yang nilainya mencapai Rp1.201 triliun dan tumbuh 12,7% YoY. Komposisi ini memberi ruang yang lebih leluasa bagi bank untuk menjaga likuiditas saat penyaluran kredit terus diperluas.
Struktur pendanaan seperti ini penting bagi bank yang sedang agresif menyalurkan pembiayaan. Semakin besar porsi dana murah, semakin efisien pula kapasitas bank dalam mendanai kredit dan menjaga fleksibilitas menghadapi perubahan kondisi pasar.
Risiko tetap terkendali meski kredit tumbuh cepat
Pertumbuhan yang tinggi biasanya memunculkan kekhawatiran soal kualitas aset, tetapi Bank Mandiri masih mempertahankan risiko kredit di level rendah. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross tercatat 0,98%, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 2,17%.
Perseroan juga menjaga pencadangan pada level tinggi untuk mengantisipasi potensi masalah pembiayaan di kemudian hari. Coverage ratio Bank Mandiri berada di 245%, yang menunjukkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi risiko yang mungkin muncul.
Kombinasi antara ekspansi kredit, kualitas aset yang terjaga, dan pencadangan yang kuat memberi gambaran bahwa pertumbuhan Bank Mandiri tidak hanya cepat, tetapi juga masih dalam kendali. Kondisi ini menjadi pembeda penting saat dibandingkan dengan laju industri perbankan secara umum.
Program prioritas ikut memperluas jangkauan pembiayaan
Selain pada portofolio kredit utama, Bank Mandiri juga menyalurkan pembiayaan untuk program prioritas pemerintah. Salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat atau KUR yang sudah mencapai Rp11 triliun dan menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM.
Perseroan juga terlibat dalam Program 3 Juta Rumah melalui skema FLPP. Di sisi lain, Bank Mandiri memperkuat ekosistem ekonomi desa lewat Koperasi Desa Merah Putih.
Rangkaian program tersebut memperlihatkan bahwa pembiayaan bank tidak hanya bergerak di jalur komersial, tetapi juga mendukung agenda sosial-ekonomi yang menyentuh pelaku usaha kecil dan sektor masyarakat yang lebih luas. Pola ini membuat peran Bank Mandiri tetap dekat dengan aktivitas ekonomi riil.
Dari sisi kinerja keseluruhan, laba bersih Bank Mandiri pada kuartal I/2026 juga naik menjadi Rp15,4 triliun. Laba tersebut tumbuh 16,6% YoY dan sejalan dengan penguatan kredit, pendanaan, serta kualitas aset yang masih terjaga.
Source: finansial.bisnis.com




