Dakar Menjadi Penentu Cepat Wabah Hantavirus, Jejaring Laboratorium Afrika Barat Bekerja Tanpa Menunggu

Saat hasil laboratorium bisa menentukan arah pelacakan kontak, Institut Pasteur de Dakar menjadi salah satu titik terpenting dalam respons awal terhadap dugaan wabah hantavirus di kapal pesiar di lepas pantai Cape Verde. Dalam situasi seperti ini, kecepatan bukan sekadar keunggulan, melainkan bagian dari upaya mencegah penularan yang lebih luas.

Laboratorium di Senegal itu menerima sampel pada dini hari 5 Mei dan langsung memprosesnya di fasilitas biokontainmen khusus. Tim menonaktifkan spesimen terlebih dahulu, lalu menganalisis droplet dengan mesin sekuensing untuk memetakan genom virus.

Dalam 24 jam, para peneliti di Dakar sudah menghasilkan genom parsial. Hasil awal itu menunjukkan bahwa penyakit pada dua penumpang, yang menjadi kasus kelima dan keenam, disebabkan strain Andes dari hantavirus.

Jenis ini dikenal dapat menyebar melalui kontak dekat antarmanusia. Temuan tersebut segera dikirim ke Organisasi Kesehatan Dunia pada awal 6 Mei, sebelum laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss mencapai kesimpulan serupa dari sampel pasien lain pada hari yang sama.

Peran Dakar dalam respons cepat

Kecepatan respons dari Dakar muncul dari kerja tim yang sudah bersiap sejak pesawat pembawa tim dan sampel mendarat di Senegal pada dini hari. Pada pukul 3 pagi, para peneliti sudah bekerja penuh karena mereka tahu setiap jam dapat memengaruhi penanganan klinis dan pelacakan kontak.

Dr. Moussa Moise Diagne, virolog dan kepala platform sekuensing di Institut Pasteur, menekankan pentingnya kapasitas deteksi di berbagai wilayah dunia. Ia menilai hasil cepat sangat krusial untuk memahami seberapa jauh penularan dapat terjadi dan bagaimana kontak harus ditelusuri.

Mengapa temuan ini penting bagi penanganan wabah

WHO kemudian mengumumkan hasil tersebut dalam konferensi pers, meski kontribusi laboratorium Afrika Barat itu sebelumnya tidak dijelaskan secara rinci. Padahal, peran Dakar menunjukkan bagaimana jaringan riset global bisa membantu memberi kepastian awal ketika situasi wabah masih bergerak cepat.

Pada 8 Mei, genom utuh virus sudah berhasil dipetakan dan dibandingkan oleh berbagai laboratorium untuk mencari mutasi yang mungkin memengaruhi perilaku virus. Dalam penilaian awal, tidak ditemukan mutasi signifikan dibandingkan wabah 2018–19 di Argentina.

Kepastian semacam ini menjadi penting karena kapal ekspedisi MV Hondius sempat singgah di beberapa pulau terpencil di Atlantik. Di atas kapal itu ada sekitar 150 orang dari 23 negara, dan tiga penumpang telah meninggal, termasuk satu orang yang transit melalui Johannesburg.

Jejaring laboratorium yang bergerak lintas negara

Untuk memeriksa pasien di kapal tersebut, WHO mengambil perlengkapan dari laboratorium di Dakar dan menyewa pesawat untuk mengangkut tim ke kepulauan itu. Setelah pemeriksaan, para peneliti kembali membawa spesimen yang dikemas tiga lapis, dimasukkan ke tabung uji, dibungkus plastik, lalu disimpan dalam kotak kardus bertanda peringatan.

Institut Pasteur sendiri adalah yayasan internasional berbasis di Prancis, dan di sub-Sahara Afrika lembaga ini memegang peran sentral dalam respons terhadap wabah penyakit menular. Pusatnya di Senegal telah mendukung sekitar 20 negara selama pandemi COVID-19.

Lembaga itu juga terlibat dalam respons terhadap Marburg di Guinea dan Ebola di Republik Demokratik Kongo. Dalam kasus-kasus tersebut, Institut Pasteur ikut mendorong pengembangan tes cepat untuk wabah yang sedang berlangsung.

Pendanaan global yang ikut disorot

Wabah hantavirus ini, bersama darurat Ebola yang menyebar cepat di Afrika tengah, kembali menyoroti pentingnya jaringan laboratorium global. Banyak di antaranya, termasuk Institut Pasteur, baru saja kehilangan pendanaan untuk pencegahan pandemi.

Salah satu contohnya adalah keputusan National Institutes of Health Amerika Serikat untuk menghentikan pendanaan bagi Centers for Research in Emerging Infectious Diseases Network, inisiatif global yang mencakup sebuah pusat di Afrika Barat. Sebuah proyek percontohan tentang cara hantavirus menginfeksi manusia juga dibatalkan.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menyatakan tetap berkomitmen menangani ancaman penyakit menular global. Seorang juru bicara juga mengatakan anggapan bahwa Amerika Serikat mundur dari keamanan kesehatan global tidak mencerminkan kenyataan keterlibatan dan dukungan internasional yang masih berjalan.

Masih ada pertanyaan penting yang belum terjawab, terutama tentang di mana dan kapan infeksi pertama terjadi. Hantavirus dapat memiliki masa inkubasi hingga enam minggu, sehingga penyelidikan terus berfokus pada jendela paparan di Amerika Latin untuk mencegah penyebaran lanjutan di luar wilayah endemik.

Baca Juga

Back to top button