Daging Kurban Tak Selalu Aman, 6 Kelompok Ini Perlu Lebih Waspada

Makan daging kurban sering terasa sulit dikendalikan karena porsinya datang dalam jumlah besar dan hadir di banyak menu sekaligus. Situasi ini penting diperhatikan, sebab tidak semua orang punya tubuh yang siap menerima asupan daging merah dalam jumlah tinggi.

Bagi sebagian orang, masalahnya bukan pada momen kurban itu sendiri, melainkan pada kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Pada kelompok tertentu, konsumsi daging kurban yang berlebihan dapat menambah beban tubuh, memicu gangguan pembuluh darah, hingga memperburuk kerja organ.

Salah satu kelompok yang perlu paling waspada adalah penderita kolesterol tinggi. Daging merah, terutama yang berlemak, dapat menaikkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah dan pada akhirnya meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah serta penyakit jantung.

Ahli gizi Roxana Ehsani menyarankan penderita kolesterol tinggi membatasi daging merah hanya satu hingga dua kali dalam sebulan. Ia juga menyarankan pemilihan potongan rendah lemak seperti sirloin atau filet mignon agar asupan protein tetap masuk tanpa menambah lemak jenuh terlalu besar.

Ketika daging merah memicu reaksi alergi

Ada pula kelompok yang sebaiknya tidak sekadar mengurangi, tetapi benar-benar menghindari daging kurban. Penderita sindrom Alpha-gal termasuk di dalamnya karena kondisi ini merupakan alergi terhadap daging merah yang dipicu molekul gula galaktosa-α-1,3-galaktosa.

Sindrom ini biasanya muncul setelah seseorang tergigit kutu Lone Star. Gejalanya bisa muncul setelah makan daging sapi, kambing, atau daging mamalia lain, mulai dari gatal-gatal, mual, muntah, sakit perut hebat, pembengkakan bibir dan tenggorokan, hingga penurunan tekanan darah yang berbahaya.

Risiko pada jantung dan pembuluh darah

Perhatian juga perlu diberikan oleh penderita penyakit jantung. Lemak jenuh dalam daging merah dapat mempercepat penumpukan plak di pembuluh darah, terutama jika pola makan sehari-hari tidak dijaga dengan baik.

Roxana Ehsani menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung umumnya sudah mengalami penyempitan pembuluh darah akibat plak. Jika asupan lemak jenuh terus bertambah, risiko stroke dan serangan jantung ikut meningkat, sehingga konsumsi daging kurban perlu benar-benar dikontrol.

Hal serupa berlaku pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung. Kelompok ini mencakup penderita hipertensi, diabetes, obesitas, dan mereka yang menjalani gaya hidup sedentari, sehingga pilihan makan mereka juga perlu lebih disiplin.

Saat ginjal tidak lagi bekerja optimal

Penderita penyakit ginjal stadium lanjut juga masuk dalam kelompok yang harus membatasi daging kurban. Ketika fungsi ginjal menurun, organ ini tidak lagi mampu menyaring limbah dan zat sisa metabolisme seefektif orang sehat.

Asupan protein yang berlebihan justru bisa memperberat kerja ginjal. Karena itu, penderita penyakit ginjal stadium 3 hingga 5 biasanya dianjurkan membatasi protein sesuai kondisi tubuh dan tetap berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Riwayat keluarga kanker juga perlu dihitung

Selain masalah jantung, alergi, dan ginjal, riwayat keluarga kanker tertentu juga patut diperhatikan. Orang dengan riwayat keluarga kanker kolorektal atau kanker usus besar perlu lebih bijak karena konsumsi daging merah dan daging olahan dalam jumlah besar berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit tersebut.

Roxana Ehsani menyebut ada penelitian yang menemukan kaitan antara daging merah dan kerusakan genetik yang dapat memicu kanker usus besar. Karena itu, orang dengan faktor risiko genetik disarankan mengatur pola makan dengan lebih hati-hati dan tidak berlebihan mengonsumsi daging merah dalam jangka panjang.

Bagi kelompok-kelompok berisiko tersebut, kunci utamanya ada pada porsi dan pilihan menu. Membatasi jumlah, memilih bagian rendah lemak, serta menyeimbangkannya dengan sayur dan buah dapat membantu menjaga tubuh tetap aman selama Iduladha.

Source: www.beautynesia.id

Baca Juga

Back to top button