Bertambahnya cadangan beras pemerintah membuat perhatian kini bergeser ke kemampuan Bulog menyalurkan dan menyimpan stok dalam jumlah besar. Di saat penugasan beras telah mencapai 5,3 juta ton, ruang gudang yang tersisa justru tinggal sekitar 806.765 ton dari total kapasitas 6,1 juta ton.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan Bulog tidak hanya soal ketersediaan beras, tetapi juga soal ketepatan pengelolaan gudang. Saat stok terus menumpuk, pengaturan keluar-masuk barang, mutu simpan, dan kesiapan distribusi menjadi semakin penting.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan data tersebut dalam rapat kerja bersama DPR di Gedung Parlemen, Selasa (19/5/2026). Ia menyebut stok beras Bulog sudah berada di level 5,3 juta ton per 18 Mei 2026.
Dengan ruang simpan yang nyaris habis, Bulog perlu menjaga kualitas beras selama berada di gudang. Karena itu, pengawasan mutu diperketat agar cadangan yang besar tetap layak disalurkan saat dibutuhkan.
Bulog juga menggandeng BRIN untuk menerapkan teknologi AEET. Langkah ini diarahkan untuk membantu menjaga mutu komoditas selama penyimpanan di tengah kapasitas gudang yang makin ketat.
Di sisi lain, stok yang besar membuka ruang penyaluran yang lebih luas ke berbagai kebutuhan resmi. Bulog mengajukan pemenuhan kebutuhan sekitar 2,8 juta ton per tahun untuk ASN, TNI, dan Polri menggunakan beras CBP dalam bentuk natura.
Selain itu, Bulog menyiapkan usulan pasokan 1,5 juta ton per tahun untuk kebutuhan BGN sebagai bahan baku MBG. Jika digabung, total alokasi pasar umum yang diajukan mencapai 4,3 juta ton.
Tidak berhenti di sana, Bulog juga mengusulkan penyaluran bantuan sosial pangan tambahan sebesar 1,9 juta ton. Program itu ditargetkan menjangkau sekitar 33 juta penerima manfaat dengan jadwal distribusi antara Agustus hingga November 2026.
Di tengah stok yang tinggi, serapan dari petani domestik juga ikut bergerak kuat. Realisasi pengadaan beras untuk kewajiban pelayanan publik telah mencapai 2,8 juta ton hingga pertengahan bulan ini.
Bulog turut mencatat progres serapan gabah kering panen sebesar 5,4 juta ton. Rizal menyebut capaian itu naik 95,4 persen dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 2,7 juta ton.
Gabungan antara stok besar, serapan yang meningkat, dan rencana penyaluran yang luas membuat operasi Bulog berada dalam fase yang padat. Dalam situasi seperti ini, ruang gudang dan kualitas simpan menjadi dua hal yang sama pentingnya dengan kecepatan distribusi ke masyarakat.





