Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berada dalam tekanan setelah ditutup di Rp216 pada Jumat, 8 Mei 2026. Posisi itu membuat minat pelaku pasar terhadap emiten batu bara ini kembali goyah, terutama ketika arus dana asing justru terus keluar dari sahamnya.
Dalam sepekan terakhir, investor asing mencatat net sell Rp195,7 miliar di BUMI. Aksi jual terbesar terjadi pada 4 Mei sebesar Rp114,62 miliar, lalu kembali berlanjut pada 8 Mei sebesar Rp82,88 miliar.
Tekanan tersebut membuat harga BUMI kembali ke level penutupan 24 April. Padahal, pada pekan terakhir April saham ini sempat bergerak lebih tinggi dan masih berada di Rp240.
Tekanan asing dan posisi teknikal yang rapuh
Secara teknikal, Kiwoom Sekuritas mencatat support pertama BUMI berada di 229 dan support kedua di 226. Stoploss dipasang pada 222, yang menunjukkan ruang gerak saham ini masih cukup sensitif terhadap tekanan lanjutan.
Kondisi itu sejalan dengan pergerakan harga yang belum mampu mempertahankan penguatan sebelumnya. Pelaku pasar tampak cepat merespons arus keluar dana asing, sehingga minat beli di saham pertambangan ini ikut tertahan.
Pasar mencermati revisi aturan batu bara
Selain tekanan dari transaksi asing, sektor batu bara juga sedang disorot karena rencana pemerintah merevisi regulasi pertambangan mineral dan batubara. Salah satu poin yang dipantau pasar adalah pengkajian kenaikan royalti melalui revisi PP 19/2025.
BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti kemungkinan penerapan skema bagi hasil yang menyerupai sektor migas. Menurut BRIDS, perubahan semacam ini berpotensi menekan pelaku industri tambang, meski di sisi lain dapat meningkatkan penerimaan negara.
Harga komoditas belum cukup mengangkat saham
Di tengah kekhawatiran itu, harga batubara dunia sebenarnya masih bertahan di level tinggi. Refinitiv mencatat harga batubara berada di US$ 139,7 per ton pada Selasa, 5 Mei 2026.
Kondisi tersebut seharusnya masih memberi ruang bagi emiten besar di sektor tambang, termasuk ADRO, ITMG, BYAN, dan BUMI, untuk menjaga kinerja keuangan. Namun, pasar saham tampak lebih fokus pada arus jual asing dan risiko perubahan aturan yang dapat menekan margin usaha.
Pergerakan dalam grup yang sama tidak seragam
Di sisi lain, tidak semua emiten dalam grup yang sama mengalami tekanan serupa. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) justru mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang kuat pada kuartal I/2026.
Penguatan BRMS ditopang oleh kenaikan harga emas di pasar internasional. Perbedaan arah ini menunjukkan sentimen investor terhadap emiten satu grup bisa bergerak tidak seragam, tergantung pada komoditas dan faktor pendorong masing-masing.