Pada kupu-kupu alfalfa, sinyal untuk memilih pasangan tidak hanya datang dari bau, tetapi juga dari pantulan cahaya pada sayap. Kombinasi itu membuat serangga bernama ilmiah Colias eurytheme ini punya cara komunikasi yang jauh lebih rumit daripada sekadar tampilan kuning yang terlihat di permukaan.
Keunikan tersebut juga menjelaskan mengapa jantan spesies ini bisa salah mengenali target kawin. Dalam kondisi tertentu, benda berwarna yang menyerupai ciri visual betina bahkan dapat memancing respons jantan, termasuk kertas berwarna yang tampak cukup mirip bagi sistem pengenalannya.
Sinyal visual yang bekerja di balik sayap
Pada kupu-kupu alfalfa jantan, sayap mampu memantulkan sinar ultraviolet. Sementara itu, sayap belakang betina dapat menyerap sinar tersebut lalu menampilkannya kembali sebagai corak di sayap.
Kemampuan memantulkan UV itu dikaitkan dengan pigmen pterin. Penelitian juga menyebut jantan dapat menyerap gelombang sepanjang 550 nm ke bawah, sehingga sinyal visual ini menjadi bagian penting dalam pembeda antarindividu.
Kajian lanjutan pada 2007 menambahkan bahwa pantulan ultraviolet tampak paling terang saat dilihat dari atas. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa pantulan sayap dipakai untuk membedakan jenis kelamin, terutama di wilayah dengan penyerapan UV yang tinggi.
Cara memilih pasangan yang tidak hanya bergantung pada warna
Meski proses perkawinan kupu-kupu alfalfa tergolong singkat, pemilihan pasangan tetap berjalan selektif. Jantan tidak menunjukkan strategi pendekatan yang terlalu kompleks, tetapi betina dapat kawin dengan banyak jantan dalam satu masa reproduksi.
Spesies ini termasuk polyandrous, dan perkawinannya biasanya terjadi dengan jeda empat hingga enam hari sekali. Di sini, bau feromon memegang peran besar, sedangkan unsur visual membantu memastikan pasangan yang ditemui bukan spesies lain yang mirip.
Kombinasi sinyal aroma, warna, dan pola membuat sistem komunikasinya cukup efisien di alam. Pada lingkungan yang penuh gangguan cahaya, petunjuk dari sayap membantu mereka membaca lawan jenis dengan lebih akurat.
Ketika petunjuk visual justru mengecoh jantan
Ciri visual yang sama juga dipakai saat kawin. Bagi jantan, pantulan ultraviolet membantu mendeteksi pejantan lain ketika musim kawin, sehingga sinyal itu tidak hanya berfungsi untuk mencari pasangan.
Namun, pengenalan tersebut tidak selalu sempurna. Penelitian menunjukkan bahwa jantan kupu-kupu alfalfa dapat mencoba kawin dengan kertas berwarna yang dianggap menyerupai pasangan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa saat rangsangan visual cukup mirip, jantan bisa salah membaca target. Kesalahan itu menegaskan betapa besar peran warna dalam perilaku reproduksi mereka, sekaligus menunjukkan batas dari sistem pengenalannya.
Habitat luas dan kemunculan yang mudah dijumpai musiman
Kupu-kupu alfalfa banyak ditemukan di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Habitatnya mencakup taman alfalfa, area lapang, hingga dataran tinggi.
Populasi spesies ini biasanya memuncak antara April hingga Oktober. Pada periode tersebut, kupu-kupu dewasa, telur, maupun ulatnya lebih mudah ditemukan di lapangan.
Makanannya juga cukup beragam. Alfalfa, bunga matahari, dan milkweed termasuk di antara sumber pakan yang sering dikaitkan dengan spesies ini.
Fase ulat yang sederhana, tetapi tetap rentan
Saat masih berupa larva, kupu-kupu alfalfa tampil sangat berbeda dari fase dewasanya. Ulatnya berwarna hijau terang dengan garis putih di sisi tubuh, tidak berbulu, dan tidak berbahaya bagi manusia.
Meski mudah dikenali, larva ini tetap rentan terhadap predator. Ancaman utamanya datang dari tawon dan lalat parasit.
Makanannya mencakup alfalfa, clover putih, clover merah, dan vecth. Karena itu, fase larva tetap bergantung pada tanaman inang yang tersedia di habitatnya, meski tubuhnya sudah memiliki warna yang cukup mencolok.
Source: www.idntimes.com




