Budaya Jadi Fondasi Pembangunan Sumedang, Wajah Kota Pun Disiapkan Bernuansa Sunda

Kirab Mahkota Binokasih menjadi penanda bahwa Sumedang tidak sedang dibicarakan hanya sebagai wilayah administrasi biasa. Momentum itu kini diarahkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat posisi Sumedang sebagai ruang yang hidup dengan budaya Sunda, bukan sekadar lokasi yang diperindah dari luar.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan budaya sebagai dasar dalam arah pembangunan daerah tersebut. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai Sumedang memiliki posisi khusus dalam sejarah dan kebudayaan Sunda, karena menyimpan warisan nilai, simbol, dan filosofi yang melekat pada peradaban Sunda.

Budaya jadi dasar pembangunan

Pendekatan yang disiapkan Pemprov Jabar tidak berhenti pada penataan fisik kota. Arah besarnya adalah mengembalikan akar identitas masyarakat Sumedang agar pembangunan berjalan selaras dengan jati diri lokal yang sudah lama hidup di tengah warga.

Dedi juga menyoroti semangat masyarakat Sumedang yang dinilai kuat. Modal sosial itu dianggap penting untuk menopang pembangunan daerah dengan fondasi kebudayaan yang kokoh dan tidak tercerabut dari akarnya.

Dalam kerangka ini, kemajuan daerah tidak diposisikan berseberangan dengan tradisi. Justru, perkembangan wilayah diharapkan tumbuh bersama identitas masyarakatnya sehingga Sumedang bisa bergerak maju tanpa kehilangan karakter.

Wajah kota disiapkan bernuansa Sunda

Penataan kota di Sumedang akan dilakukan dengan pendekatan budaya yang terintegrasi. Pemprov Jabar juga ingin menyelaraskan penataan itu dengan kawasan pendidikan agar lingkungan kota ikut mendukung tumbuhnya generasi muda yang berbudaya.

Sejumlah elemen ruang kota akan disentuh dalam rencana tersebut. Gapura, penerangan jalan, dan tata kios diarahkan memiliki karakter Sunda yang khas, sederhana, tertib, dan sarat makna filosofis.

Penataan itu tidak hanya ditujukan untuk memperkuat tampilan visual. Pemprov Jabar ingin menghadirkan lingkungan yang menegaskan identitas lokal sekaligus memberi dukungan nyata bagi kawasan pendidikan di sekitarnya.

Arah yang ingin dijadikan contoh

Dengan konsep itu, Sumedang diproyeksikan menjadi contoh daerah yang menempatkan budaya sebagai fondasi pembangunan. Pemerintah provinsi berharap daerah ini dapat menunjukkan bahwa pelestarian identitas dapat berjalan seiring dengan kemajuan wilayah.

Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dari arah kebijakan tersebut. Pemprov Jabar berharap semangat gotong royong warga ikut menggerakkan terwujudnya Sumedang sebagai pusat budaya yang sesungguhnya.

Makna kirab tidak berhenti di seremoni

Kirab Mahkota Binokasih yang telah dilaksanakan pada Sabtu malam, 2 Mei 2026, dipandang sebagai simbol penting dalam narasi kebudayaan Sunda. Peristiwa itu dianggap melambangkan perjalanan panjang peradaban Sunda yang diarahkan kembali menuju kejayaannya.

Dedi menegaskan bahwa kirab tersebut tidak cukup dimaknai sebagai acara seremonial. Ia menilai harus ada langkah nyata dalam pembangunan agar pesan kebudayaannya tidak berhenti di panggung acara.

Karena itu, penataan kota, penguatan kawasan pendidikan, dan pelibatan masyarakat ditempatkan dalam satu jalur yang sama. Sumedang pun diarahkan menjadi ruang yang menjaga tradisi sekaligus mendorong kemajuan dengan budaya sebagai fondasi utamanya.

Source: www.merdeka.com

Baca Juga

Back to top button