Nama-nama yang tidak dibawa Carlo Ancelotti justru memperlihatkan betapa padatnya kualitas Brasil saat ini. Di hampir setiap lini, ada pemain dengan pengalaman Eropa, jam terbang tinggi, dan musim yang cukup meyakinkan, tetapi tetap harus menerima kenyataan tersingkir dari daftar 26 pemain menuju Piala Dunia 2026.
Kondisi itu membuat daftar yang terbuang terasa hampir seperti skuad alternatif yang mewah. Brasil tetap punya kedalaman besar, namun ruang di tim utama ternyata tidak cukup untuk menampung semua kandidat yang sedang tampil menonjol di klub masing-masing.
Persaingan ketat di bawah mistar dan lini belakang
Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Lucas Perri. Kiper Leeds United itu belum pernah tampil untuk Brasil, tetapi performanya musim ini dinilai layak diberi kesempatan.
Meski begitu, posisi penjaga gawang memang sangat sulit ditembus. Ancelotti tetap menempatkan Alisson sebagai pilihan utama, sementara Ederson disiapkan sebagai pelapis, sehingga peluang untuk kiper lain praktis menutup.
Di sektor pertahanan, Vanderson juga tidak masuk skuad. Situasinya ikut dipengaruhi musim Monaco yang mengecewakan di Ligue 1 dan kegagalan mereka lolos ke kompetisi Eropa.
Vanderson sebenarnya sudah mencatat tujuh caps untuk Brasil, termasuk tiga kali pada 2025. Namun, belum satu pun penampilannya terjadi di bawah asuhan Ancelotti.
Nama besar lain yang absen adalah Eder Militao. Bek Real Madrid itu tersisih setelah mengalami cedera hamstring pada bulan April, padahal ia telah mengoleksi 38 caps dan bisa menjadi andalan di jantung pertahanan.
Thiago Silva juga tidak mendapat tempat di daftar akhir. Bek veteran itu justru tampil baik bersama Porto, membantu klubnya menjuarai liga dan mencapai perempat final Liga Europa, tetapi performa tersebut belum cukup untuk mengubah pilihan Ancelotti.
Alex Telles melengkapi daftar bek yang dicoret. Bek kiri Botafogo itu sempat masuk skuad Brasil terakhir pada 2022, tetapi kali ini ia tidak pernah benar-benar berada dalam persaingan utama meski kembali bermain di Brasil.
Lini tengah tetap penuh pilihan
Di sektor tengah, Andrey Santos masih harus menunggu kesempatan berikutnya. Gelandang Chelsea berusia 22 tahun itu belum mendapatkan ruang di tengah ekspektasi besar yang menyertainya.
Ederson dari Atalanta juga kembali diabaikan. Pemain berusia 26 tahun itu baru tiga kali membela negaranya dan masih kalah saing dengan nama-nama yang lebih berpengalaman seperti Casemiro dan Lucas Paqueta.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa Brasil tidak hanya ramai di sektor penyerangan, tetapi juga sangat padat di lini kedua. Ancelotti tampaknya memilih pemain yang paling siap mengisi kebutuhan tim, bukan sekadar mengikuti reputasi atau usia muda yang menjanjikan.
Serangan Brasil justru paling menyakitkan
Jika ada area yang paling terasa kehilangan, jawabannya ada di lini depan. Rodrygo absen setelah mengalami cedera ACL pada awal Maret, padahal winger Real Madrid itu kerap menentukan di momen penting.
Estevao juga tidak masuk karena cedera hamstring pada bulan lalu. Talenta muda yang disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia itu sempat menarik perhatian bersama Chelsea dan diproyeksikan menjadi sosok penting Brasil di masa depan.
Savinho ikut tersingkir meski bermain di Manchester City. Ia harus bersaing dengan banyak nama baru di Etihad dan lebih sering tampil sebagai bagian dari rotasi besar ketimbang pilihan utama.
Kejutan terbesar datang dari Joao Pedro. Striker Chelsea itu tidak dibawa ke Amerika Utara meski menjalani musim debut yang impresif, dengan catatan 15 gol dalam 34 pertandingan Liga Premier dan tiga gol dalam delapan laga Liga Champions.
Di antara para penyerang yang tidak dipanggil, Joao Pedro menjadi nama yang paling mengejutkan. Performa yang sedang naik justru belum cukup untuk menembus daftar akhir, sementara Richarlison dan Gabriel Jesus juga harus melewatkan musim panas tanpa panggilan ke skuad utama Brasil.
Source: www.suara.com