Pasar otomotif sedang bergerak ke arah yang makin cerdas, dan Bosch memilih masuk lebih dalam ke jalur itu. Perusahaan ini menempatkan otomasi, digitalisasi, elektrifikasi, dan kecerdasan buatan sebagai tumpuan utama untuk menjaga laju bisnisnya di tengah perubahan besar industri.
Langkah tersebut bukan sekadar mengikuti tren kendaraan listrik. Bosch juga melihat sistem otonom, layanan pendukung elektrifikasi, dan robotika sebagai ruang pertumbuhan yang lebih menjanjikan untuk jangka panjang.
Target pertumbuhan tetap dipertahankan
Di tengah tekanan konflik geopolitik yang masih membayangi banyak industri, Bosch tetap memasang target pertumbuhan penjualan 2-5 persen. Manajemen menilai sasaran itu masih realistis selama efisiensi biaya berjalan dan inovasi terus didorong di seluruh lini usaha.
Stefan Hartung, Chairman of the Board of Management of Robert Bosch GmbH, menilai kemajuan teknologi membuka peluang pertumbuhan yang menguntungkan. Ia juga menegaskan bahwa langkah efisiensi biaya dari penyesuaian struktural yang sudah dimulai menjadi syarat penting untuk mencapai target tersebut.
Inovasi dan kinerja bisnis saling menopang
Dorongan Bosch pada inovasi terlihat dari aktivitas patennya di Eropa. Pada 2025, perusahaan itu telah mendaftarkan setidaknya 6.300 paten dan memimpin di Jerman.
Aktivitas inovasi itu ikut tercermin pada performa bisnis. Pada tahun fiskal 2025, Bosch membukukan pendapatan 91 miliar euro, naik dari 90,3 miliar euro pada tahun sebelumnya.
Otomotif jadi pusat strategi baru
Bosch menempatkan sektor otomotif sebagai area paling penting untuk pertumbuhan baru. Perusahaan itu mengandalkan pergeseran ke kendaraan listrik dan mobilitas cerdas melalui teknologi seperti Electronic Control Units atau ECU, Battery Management System atau BMS, serta solusi lain yang mendukung elektrifikasi.
Selain kendaraan listrik, Bosch juga melihat sensor inersia sebagai komponen penting bagi masa depan mobil otonom. Sensor ini membantu kendaraan tetap mengenali posisinya saat sinyal kamera atau GPS tidak tersedia.
Potensi pasarnya pun dinilai masih besar. Nilai pasar sensor cerdas di otomotif diproyeksikan naik hampir dua kali lipat dan melampaui 80 miliar dolar AS di pertengahan dekade mendatang.
Penguatan di Indonesia berjalan sejalan
Di Indonesia, Bosch memperluas kehadirannya lewat teknologi yang mendukung transformasi industri dan mobilitas. Arah ini juga menunjukkan upaya membawa teknologi mutakhir lebih dekat ke pasar lokal.
Pirmin Riegger, Managing Director Bosch Indonesia, menyebut prioritas perusahaan adalah membangun kapabilitas, memperkuat kemitraan, dan menghadirkan teknologi yang relevan. Menurutnya, langkah itu menjadi bagian dari dorongan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Bosch juga memperkuat layanan purnajual di Tanah Air. Tahun lalu, perusahaan memperkenalkan Bosch Car Service untuk konsumen Indonesia sebagai bagian dari penguatan jaringan layanan.
Melalui kemitraan dengan PT XMotors International Group sebagai mitra lisensi utama, Bosch menargetkan 20 bengkel beroperasi pada 2025. Target itu menjadi bagian dari pembangunan ekosistem nasional yang lebih luas.
Arah bisnis baru Bosch
Dalam strategi terbarunya, Bosch juga menempatkan otomatisasi dan robotika dalam kerangka Invented for life. Pendekatan ini memperlihatkan upaya perusahaan untuk memanfaatkan perubahan industri, bukan hanya bertahan pada bisnis lama.
Dengan kombinasi paten, teknologi elektrifikasi, serta layanan purnajual, Bosch berusaha mempertahankan posisi di tengah persaingan yang makin ketat. Perusahaan itu kini bertaruh pada pasar otomotif yang bergerak menuju kendaraan yang lebih cerdas, lebih terhubung, dan lebih otonom.
Source: otomotif.katadata.co.id




