Bondowoso Lebih Dulu Minta Air Bersih, Enam Wilayah Jatim Masuk Siaga Kekeringan

Ancaman kekeringan di Jawa Timur mulai bergerak lebih cepat dari biasanya. Enam wilayah sudah lebih dulu menetapkan status siaga, sementara Bondowoso menjadi daerah pertama yang meminta bantuan air bersih ke pemerintah provinsi.

Permintaan itu langsung dijawab dengan distribusi 10.000 liter air bersih atau setara dua truk tangki. Bantuan tersebut diarahkan ke tiga dusun yang paling terdampak, yaitu Dusun Banteng Lor, Dusun Sumberwaru, dan Dusun Banteng Duk Betok.

Kondisi di tiga dusun itu sudah masuk tahap krisis air bersih yang cukup berat. Penyaluran air bersih dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan harian sekitar 140 kepala keluarga di wilayah tersebut.

Enam daerah lebih dulu siaga

BPBD Jawa Timur mencatat ada enam daerah yang sudah lebih dulu menetapkan status siaga kekeringan. Daerah itu meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, dan Blitar.

Status siaga ini menandai bahwa tekanan kemarau mulai terasa di sejumlah titik. Meski begitu, belum semua wilayah langsung masuk ke penanganan dari pemerintah provinsi karena sebagian masih bisa mengatasi dampaknya sendiri.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyebut enam daerah tersebut belum semuanya meminta dropping air bersih. Menurut dia, status siaga masih dapat ditangani masing-masing daerah.

Bantuan provinsi baru bergerak di Bondowoso

Dari enam wilayah yang siaga, Bondowoso menjadi yang paling awal mengajukan bantuan distribusi air bersih. Langkah ini menunjukkan bahwa dampak kekeringan di daerah tersebut sudah lebih mendesak dibanding wilayah lain yang masih bertahan dengan sumber daya lokal.

BPBD Jawa Timur kemudian menyalurkan air bersih ke titik-titik yang paling membutuhkan. Fokus penanganan diarahkan ke tiga dusun yang sejak awal merasakan kekurangan air bersih paling parah.

Bantuan ini menjadi bentuk respons awal terhadap kebutuhan dasar warga. Di lapangan, akses air bersih menjadi persoalan yang langsung memengaruhi aktivitas harian masyarakat.

Risiko meluas pada kemarau yang lebih berat

BPBD Jawa Timur memperkirakan dampak kekeringan pada 2026 akan lebih besar dibandingkan 2025. Kemarau tahun ini juga diproyeksikan berlangsung lebih lama dan terasa lebih panas.

Dalam pemetaan kebencanaan, potensi kekeringan bisa meluas hingga 916 desa di 29 kabupaten/kota di Jawa Timur. Angka itu menunjukkan bahwa ancaman tidak berhenti di enam wilayah yang sudah berstatus siaga.

Sejumlah daerah juga disebut sebagai langganan krisis air bersih setiap tahun. Wilayah yang masuk daftar itu antara lain Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek, Pasuruan, Jombang, hingga seluruh wilayah di Pulau Madura.

Posko dan armada disiagakan

Untuk mengantisipasi kemungkinan kebutuhan air yang makin besar, BPBD Jawa Timur menyiagakan posko kebencanaan dan armada distribusi air bersih. Langkah ini disiapkan agar penanganan bisa bergerak cepat saat permintaan meluas.

Situasi saat ini menjadi tanda awal bahwa musim kering dapat memberi tekanan lebih besar pada banyak daerah. Karena itu, warga di wilayah lain diminta mulai memperhatikan ketersediaan air bersih sejak dini.

Source: regional.kompas.com

Baca Juga

Back to top button