Binokasih Disusun Jadi Gerak Budaya Lintas Jabar, Dari Cirebon Hingga Sumedang

Rangkaian Karnaval Binokasih disiapkan sebagai cara baru mempertemukan sejarah, budaya, dan penataan wilayah di Jawa Barat dalam satu jalur perjalanan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menempatkan agenda ini bukan hanya sebagai kirab tradisi, tetapi juga sebagai penanda keterhubungan jejak Sunda dari satu daerah ke daerah lain.

Kegiatan tersebut akan dimulai dari Sumedang, lalu bergerak menyusuri sejumlah wilayah yang punya nilai sejarah dan budaya kuat. Dedi Mulyadi menyampaikan, “Kalau Karnaval Binokasih, kita mulai tanggal 2 Mei di Sumedang,” saat berbicara di Bandung, Selasa (28/4/2026).

Sumedang menjadi titik awal lintasan budaya

Binokasih berangkat dari tradisi Keraton Sumedang dan dirancang sebagai agenda bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dengan pelibatan pemerintah provinsi, jangkauan kegiatan ini diharapkan lebih luas dan dampaknya terasa lebih besar bagi warga di wilayah yang dilalui.

Dari Sumedang, rombongan karnaval akan menuju Kawali di Kabupaten Ciamis. Kawali dipahami sebagai salah satu pusat Kerajaan Sunda Kawali, sehingga lintasan ini menegaskan hubungan antara ruang budaya masa kini dan pusat sejarah Sunda.

Perjalanan kemudian diarahkan ke Kampung Naga di Tasikmalaya. Kawasan ini dikenal memiliki identitas tradisional yang kuat dan menjadi salah satu simpul budaya yang memperkaya narasi Binokasih.

Lintasan berikutnya menyambung situs sejarah

Setelah Tasikmalaya, perjalanan diteruskan ke Cianjur. Titik akhir di wilayah ini berada di kawasan gedung keresidenan yang memiliki nilai historis sebagai ibu kota Priangan pada masa lalu.

Pola perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa karnaval ini tidak disusun sekadar sebagai arak-arakan. Rute yang dipilih justru disusun untuk menonjolkan keterhubungan antarsitus budaya di Jawa Barat dan menghidupkan kembali memori sejarah antarwilayah.

Dari Cianjur, jalur karnaval bergerak ke Bogor melalui Batutulis hingga Kebun Raya Bogor. Rute ini memperkuat unsur heritage yang menjadi bagian penting dari narasi budaya dalam rangkaian Binokasih.

Depok, Karawang, lalu mengarah ke puncak acara

Setelah melewati Bogor, agenda terintegrasi dengan peringatan Hari Jadi Kota Depok setelah jeda satu hari. Di wilayah ini, lintasan karnaval akan menonjolkan kawasan heritage peninggalan Belanda sebagai penanda sejarah yang ikut dimasukkan dalam rangkaian.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Karawang dengan tujuan Pesantren Syekh Quro. Titik ini menambah lapisan sejarah dan keagamaan dalam satu rangkaian budaya yang menelusuri simpul penting di Jawa Barat.

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Cirebon. Rutenya dimulai dari Bale Jayadewata menuju kawasan Kasepuhan, yang diposisikan sebagai penutup untuk menegaskan kesinambungan sejarah Sunda dari Kawali hingga terbentuknya Kasultanan Cirebon.

Kebersihan dan pembangunan ikut dibawa dalam agenda

Selain menampilkan warisan budaya, Dedi Mulyadi juga menempatkan kebersihan lingkungan sebagai syarat penting di daerah yang dilalui rombongan. Ia menegaskan, “Daerah yang terlewati harus bersih. Setelah itu pasti ada program pembangunannya,” sebagai bagian dari pesan yang dibawa dalam kegiatan ini.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan wilayah yang dilewati akan mendapat perhatian pembangunan. Fokus yang disiapkan mencakup renovasi Keraton Sumedang, penataan kawasan Kawali, peningkatan fasilitas wisata di Kampung Naga, serta penguatan daya dukung situs sejarah di Cianjur, Depok, Karawang, dan Cirebon.

Agenda itu juga dikaitkan dengan perbaikan infrastruktur dan lingkungan di sejumlah daerah yang masuk lintasan. Perbaikan jalan, trotoar, hingga kawasan permukiman menjadi bagian dari langkah yang ingin dihubungkan dengan gerakan budaya tersebut.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa target kebersihan tidak dibatasi oleh satu kota saja. “Pokoknya Jawa Barat nanti yang bersih bukan hanya Kota Bandung, seluruh wilayah Jawa Barat harus bersih,” ujarnya.

Ke depan, Karnaval Binokasih disiapkan menjadi agenda rutin tahunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dengan jalur yang menghubungkan Sumedang hingga Cirebon, kegiatan ini diproyeksikan menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya, penataan wilayah, dan penguatan identitas daerah.

Source: www.tarungnews.com

Baca Juga

Back to top button