Biaya Peternak Tertekan Harga Jagung Pakan, SPHP Disalurkan ke 5 Ribu Lebih Peternak

Penyaluran jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP segera dijalankan untuk meredam tekanan biaya yang dirasakan peternak. Skema ini disiapkan ketika harga jagung pakan di tingkat peternak sudah berada di atas Harga Acuan Penjualan dan dinilai berpotensi semakin menekan usaha peternakan skala mikro, kecil, dan menengah.

Badan Pangan Nasional atau Bapanas menyiapkan alokasi 242 ribu ton jagung pakan untuk program tersebut. Sasaran penyalurannya mencapai lebih dari 5 ribu peternak di 26 provinsi, dengan jalur distribusi melalui koperasi atau asosiasi yang anggotanya sudah tercantum dalam SK Menteri Pertanian.

Harga melewati acuan

Dorongan intervensi datang setelah harga jagung pakan di tingkat peternak terus bergerak naik. Bapanas mencatat harga per 27 April telah mencapai Rp6.758 per kilogram, atau 16,52% di atas HAP tingkat konsumen yang ditetapkan Rp5.800 per kilogram.

Dalam ketentuan Bapanas, harga jagung pakan di gudang Bulog dipatok Rp5.000 per kilogram. Sementara itu, harga maksimal di tingkat peternak ditetapkan Rp5.500 per kilogram agar pergerakan distribusi tetap berada dalam batas yang lebih terkendali.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jagung pakan memegang peran besar dalam struktur biaya produksi peternakan. Saat harga bahan baku naik, ruang usaha peternak kecil ikut menyempit dan beban ongkos produksi menjadi lebih berat.

Bulog sudah mendapat tugas penyaluran

Direktur SPHP Bapanas Maino Dwi Hartono menyampaikan bahwa penugasan kepada Perum Bulog sudah terbit. Ia juga menegaskan bahwa verifikasi data penerima program telah selesai dilakukan bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

“Seiring kenaikan harga jagung di tingkat peternak dan panen raya mungkin sebagian sudah selesai, Bapanas sudah menugaskan Bulog untuk penyaluran SPHP jagung dan tentunya minggu ini mudah-mudahan bisa segera tersalurkan,” kata Maino dalam keterangan tertulis.

Pemerintah menargetkan penyaluran berjalan cepat agar pasokan jagung pakan dapat masuk ke jalur distribusi tanpa menunggu terlalu lama. Langkah ini juga disiapkan di tengah situasi harga pasar yang masih bergerak naik dan sebagian masa panen raya disebut sudah berakhir.

Cakupan lebih luas dan ada cadangan

Cakupan program kali ini disebut lebih luas dibanding tahun sebelumnya yang hanya menjangkau 17 provinsi. Perluasan wilayah ini menunjukkan bahwa semakin banyak daerah penghasil maupun pengguna jagung pakan yang masuk dalam skema pengaturan pemerintah.

Dari total alokasi 242 ribu ton, pemerintah memperkirakan 213,1 ribu ton akan segera disalurkan pada tahap awal. Sisa sekitar 28,8 ribu ton disiapkan sebagai cadangan untuk menampung usulan baru dari daerah maupun peternak yang masih dalam proses pengajuan.

Cadangan itu juga disiapkan untuk menjawab kebutuhan tambahan dari peternak babi yang diusulkan secara berjenjang dari kabupaten dan kota. Dengan begitu, pemerintah masih memiliki ruang respons bila kebutuhan di lapangan bertambah.

Ditargetkan untuk peternak kecil

Program SPHP jagung pakan diarahkan terutama kepada peternak skala mikro, kecil, dan menengah. Pemerintah melihat kelompok ini paling rentan ketika harga bahan baku bergerak naik karena biaya pakan sangat menentukan kelangsungan usaha.

Sasaran distribusi program mencakup lebih dari 5 ribu peternak di 26 provinsi. Penyaluran melalui koperasi atau asosiasi dipilih agar distribusi lebih tertib dan penerima yang terdaftar bisa memperoleh jagung pakan sesuai ketentuan.

Kebijakan ini juga disiapkan untuk berjalan hingga akhir tahun 2026 dengan mempertimbangkan kebutuhan peternak kecil. Pemerintah menempatkannya sebagai instrumen untuk menahan tekanan biaya produksi di tengah populasi sasaran yang disebut mencapai 53 juta ekor unggas.

Dengan harga jagung pakan yang masih tinggi, percepatan distribusi melalui Bulog menjadi faktor penting agar beban peternak tidak bertambah. Pemerintah berharap pasokan yang masuk lewat skema SPHP bisa membantu menjaga harga pakan di tingkat peternak tetap lebih terkendali.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button