Di Berkshire Hathaway, kecerdasan buatan tidak diperlakukan sebagai tiket untuk tampil modern atau mengejar sorotan pasar. Greg Abel justru menempatkannya sebagai alat kerja yang harus lolos satu uji sederhana: apakah teknologi itu benar-benar menambah nilai bagi bisnis.
Sikap itu menjadi sinyal awal yang tegas dari kepemimpinan barunya setelah Warren Buffett mundur dari jabatan chief executive. Dari Omaha, dalam pertemuan tahunan pertamanya sebagai penerus Buffett, Abel memperlihatkan bahwa Berkshire akan tetap bergerak dengan disiplin, bukan dengan euforia teknologi.
Bagi Abel, efisiensi, keselamatan, dan kualitas keputusan harus tetap menjadi prioritas sebelum AI dipakai di dalam operasi konglomerat tersebut. Ia menolak penggunaan teknologi hanya demi mengikuti tren, dan menegaskan bahwa AI harus benar-benar memberi manfaat langsung bagi bisnis.
Nada itu sejalan dengan skeptisisme lama Buffett terhadap narasi teknologi yang belum teruji. Perbedaannya juga terlihat jelas dibanding sebagian perusahaan lain yang memilih memangkas tenaga kerja atau membentuk citra baru agar terlihat unggul dalam AI.
Dalam sesi pertemuan itu, penyelenggara bahkan membuka acara dengan video Buffett yang dibuat memakai AI. Abel menyebut hal tersebut sebagai risiko serius yang harus dikelola Berkshire setiap hari.
AI dipakai, tetapi hanya untuk tugas yang sempit
Pendekatan Berkshire tidak berarti menolak AI sepenuhnya. Justru perusahaan itu memakai teknologi tersebut secara terbatas pada fungsi yang spesifik dan langsung berguna bagi operasi.
Contoh paling jelas ada di BNSF, anak usaha kereta api Berkshire. Di sana, alat AI diarahkan untuk membantu perbaikan operasional, bukan untuk mengubah arah bisnis utama.
Pola serupa juga terlihat di lini asuransi. Berkshire menggunakan AI untuk mendeteksi penipuan dan mengidentifikasi ancaman deepfake, dua penggunaan yang memberi manfaat langsung tanpa membuat teknologi menjadi pusat strategi.
Dengan cara itu, Berkshire menjaga jarak dari perlombaan valuasi perangkat lunak dan narasi AI yang agresif. Abel memilih menempatkan teknologi sebagai pendukung pekerjaan, bukan mesin utama untuk membangun citra perusahaan.
Peluang terbesar justru datang dari energi
Meski berhati-hati terhadap hype AI, Berkshire tetap melihat potensi pertumbuhan nyata dari Berkshire Hathaway Energy. Abel mengatakan pusat data sudah menyumbang sekitar 8% dari beban puncak di wilayah layanan penting seperti Iowa.
Angka itu berada di kisaran atas tolok ukur industri, yang biasanya berada di rentang 5% sampai 10%. Abel juga memperkirakan porsi tersebut dapat naik 50% dalam lima tahun ke depan.
Dorongan utama datang dari para hyperscaler yang terus membangun infrastruktur AI. Bagi Berkshire, arus permintaan itu membuka ruang bisnis yang menarik tanpa harus ikut terseret dalam spekulasi software.
Abel menegaskan bahwa operator pusat data harus menanggung seluruh biayanya sendiri. Dengan begitu, pelanggan rumah tangga dan komersial tidak ikut menanggung beban baru akibat lonjakan kebutuhan listrik tersebut.
Di titik ini, disiplin menjadi pembeda utama. Saat pengeluaran untuk infrastruktur AI terus membesar di sektor utilitas, Berkshire memilih mengambil manfaat dari kebutuhan daya yang meningkat tanpa meninggalkan kehati-hatian yang menjadi ciri khasnya.