Benteng Beaufort Kembali Dikuasai Israel, Pos Pengawasan Kunci di Lebanon Selatan Diperebutkan

Penguasaan Benteng Beaufort kembali menegaskan bahwa perang di Lebanon selatan belum bergerak menuju reda. Situs bersejarah itu kini berubah lagi menjadi titik perebutan yang bukan hanya penting secara simbolik, tetapi juga sangat bernilai untuk pengawasan medan.

Dari ketinggiannya, Beaufort membuka pandangan luas ke wilayah sekitar. Karena itu, siapa pun yang menguasainya akan punya posisi lebih kuat untuk memantau pergerakan di Lebanon selatan dan mengatur operasi di kawasan tersebut.

Benteng Beaufort dikenal di Lebanon sebagai Qalaat al-Shaqif. Bangunan ini berdiri di atas bukit berbatu sekitar 700 meter di atas permukaan laut dan menghadap Sungai Litani serta perbukitan di sekitarnya.

Letaknya membuat benteng ini sejak lama dianggap sebagai titik pertahanan alami yang kuat. Nama Beaufort berasal dari bahasa Prancis Kuno dan berarti “benteng yang indah”, sedangkan nama Arabnya, al-Shaqif, berasal dari bahasa Syriac kuno yang merujuk pada kawasan berbatu yang kokoh.

Kepentingan militer benteng itu terlihat jelas dari sudut pandang lapangan. Koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, mengatakan dari lokasi tersebut terlihat kota dan desa di sekitar Nabatieh, Lembah Bekaa bagian barat, hingga dataran tinggi Golan yang diduduki Israel dan Galilea utara.

Situasi itu memberi keuntungan besar dalam pengawasan, pengumpulan intelijen, dan pengendalian operasi militer. Tidak mengherankan jika penguasaan Beaufort dipandang sebagai keuntungan taktis penting dalam operasi Israel melawan Hizbullah.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga menyatakan pasukannya kembali menguasai benteng tersebut. Ia menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di sana sebagai bagian dari zona keamanan di Lebanon.

Beaufort sendiri bukan situs yang baru kali ini menjadi rebutan. Setelah pernah dikuasai berbagai kekuatan regional dan Kesultanan Ottoman, benteng itu kembali masuk pusat perhatian pada masa modern ketika pejuang Palestina menjadikannya basis pertahanan.

Israel merebut benteng itu dalam invasi Lebanon pada 1982 dan kemudian mendudukinya selama sekitar 18 tahun. Pasukan Israel baru menarik diri dari wilayah itu pada 2000.

Jejak konflik di lokasi ini bahkan meresap ke budaya populer Israel. Pengalaman perang di Beaufort menginspirasi lahirnya film perang Beaufort yang menyoroti dilema moral dan psikologis dalam konflik bersenjata.

Di sisi lain, benteng tersebut juga punya nilai budaya yang diakui secara internasional. UNESCO pada 2024 memberi tingkat perlindungan tertinggi kepada Beaufort sebagai salah satu dari 34 situs budaya Lebanon yang harus dijaga dari kerusakan akibat konflik bersenjata.

Badan kebudayaan PBB itu menyebut Beaufort sebagai salah satu contoh terbaik benteng abad pertengahan yang masih terpelihara di kawasan Timur Dekat. Status itu menempatkan benteng ini bukan sekadar sebagai target militer, tetapi juga sebagai warisan sejarah yang penting bagi Lebanon.

Perebutan benteng ini terjadi di tengah meluasnya konflik Israel dan Hizbullah di selatan Lebanon. Bentrokan terbaru bermula ketika Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel utara pada 2 Maret 2026.

Sejak itu, Israel meningkatkan operasi militernya dan memperluas invasi darat ke Lebanon selatan. Operasi tersebut membuat Israel menguasai puluhan desa dan kota dekat perbatasan.

Wilayah operasi juga meluas hingga utara Sungai Litani, meski sungai itu selama bertahun-tahun menjadi batas de facto pergerakan militer Israel di Lebanon. Hizbullah mengklaim telah menghancurkan satu tank Israel di dekat Benteng Beaufort, tetapi klaim itu belum bisa diverifikasi secara independen.

Dampak kemanusiaan dari pertempuran ini terus memburuk. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.412 orang tewas dan 10.269 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi.

Situasi di sekitar Beaufort juga menjadi sorotan karena terjadi menjelang putaran perundingan langsung berikutnya antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington mulai Selasa. Kondisi ini membuat benteng tua itu kembali berada di persimpangan antara kepentingan militer, sejarah, dan diplomasi kawasan.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button