Beban Utang Dan Ketegangan AS-Iran Membayangi, Rupiah Tertekan Ke Rp17.181

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari pasar global, tetapi juga dari dalam negeri. Di tengah kondisi yang belum tenang, pelaku pasar melihat dua sumber risiko sekaligus, yaitu ketegangan Amerika Serikat dan Iran serta beratnya beban utang pemerintah.

Situasi itu membuat rupiah kembali berada dalam posisi tertekan dan ditutup di level Rp17.181 per dolar AS. Pelemahan sebesar 38 poin atau 0,22% dari posisi sebelumnya di Rp17.143 per dolar AS menunjukkan bahwa ruang penguatan mata uang domestik masih sempit.

Geopolitik masih jadi sumber kegelisahan

Salah satu faktor yang paling banyak dicermati pasar adalah perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu justru menambah kabut ketidakpastian.

Pasar membaca langkah itu sebagai keputusan sepihak karena belum ada respons yang jelas dari Iran maupun Israel. Akibatnya, pelaku pasar sulit menilai apakah tensi di Timur Tengah benar-benar akan mereda atau justru bertahan lebih lama.

Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko biasanya lebih rentan mengalami tekanan. Mata uang negara berkembang pun ikut terdampak ketika kepastian politik melemah dan arah konflik belum terlihat jelas.

Tekanan juga masih datang dari kebijakan AS yang mempertahankan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Iran menilai kebijakan itu sebagai agresi, bukan upaya damai, sehingga peluang menurunnya ketegangan belum tampak kuat.

Minimnya pernyataan resmi dari pihak Iran ikut memperbesar ruang spekulasi di pasar. Media lokal Iran bahkan menegaskan bahwa negara itu tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan membuka kemungkinan melakukan perlawanan terhadap blokade AS.

Faktor domestik ikut membatasi ruang gerak rupiah

Di sisi lain, pasar juga menaruh perhatian pada kondisi fiskal Indonesia yang dinilai tidak ringan. Beban utang pemerintah menjadi salah satu isu yang ikut menekan sentimen, terutama karena besarnya kewajiban jatuh tempo yang harus dihadapi.

Pada 2026, total jatuh tempo utang pemerintah mencapai Rp833,96 triliun. Angka itu disebut sebagai yang tertinggi dalam satu dekade terakhir dan langsung memunculkan perhatian soal kemampuan pemerintah menjaga stabilitas pembiayaan.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp154,5 triliun berasal dari skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia saat pandemi COVID-19. Komposisi ini menambah sorotan pasar terhadap kebutuhan likuiditas dan pengelolaan fiskal ke depan.

Dalam situasi seperti itu, refinancing menjadi salah satu strategi yang dinilai paling mungkin ditempuh. Namun, langkah tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar global yang belum benar-benar stabil.

Kurs acuan BI ikut mengonfirmasi tekanan

Pelemahan rupiah juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia. Kurs acuan itu turun ke Rp17.179 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.142 per dolar AS.

Pergerakan JISDOR menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih luas, bukan hanya di pasar spot. Ketika faktor eksternal dan internal sama-sama memberi dorongan negatif, pasar cenderung bergerak lebih hati-hati.

Gabungan antara konflik AS-Iran, kebijakan blokade, dan tingginya beban pembiayaan pemerintah membuat sentimen pasar tetap defensif. Selama dua sumber tekanan itu belum mereda, rupiah masih akan berhadapan dengan kondisi yang membatasi peluang pemulihan dalam perdagangan berikutnya.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button