Baterai Masih 90 Persen Setelah 10 Tahun, MG Coba Redam Kekhawatiran Mobil Listrik Bekas

Angka depresiasi mobil listrik bekas tengah menjadi sorotan karena pasar belum sepenuhnya menemukan titik seimbang. Di tengah situasi itu, isu yang paling cepat memengaruhi minat pembeli bukan hanya harga, tetapi juga keyakinan terhadap umur baterai, garansi, dan layanan purna jual.

MG Motor Indonesia menilai penurunan nilai jual kembali mobil listrik tidak bisa dipisahkan dari persepsi pasar yang masih bergerak. Product Manager MG Motor Indonesia, Eko Fachruroji, menegaskan bahwa teknologi kendaraan listrik masih berkembang, sehingga banyak konsumen masih melihat kendaraan bermesin konvensional sebagai pilihan yang lebih matang.

Pasar Sekunder Masih Sensitif

Direktur OLXmobbi, Agung, menyebut depresiasi mobil listrik bekas memang terasa saat ini. Ia juga menyoroti adanya sejumlah strategi pabrikan, termasuk harga khusus untuk 2.000 unit pertama dan model tertentu yang membuat garansi baterainya hangus ketika mobil berpindah tangan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pasar mobil listrik bekas di Indonesia masih mencari bentuk. Harga, usia pakai, dan persepsi konsumen belum benar-benar stabil, terutama untuk unit yang sudah digunakan lebih dari tiga tahun.

Baterai Jadi Ukuran Paling Dicermati

Di pasar kendaraan listrik bekas, baterai menjadi titik paling sensitif. MG menilai semakin baik performa baterai dalam jangka panjang, semakin positif pula pandangan konsumen terhadap nilai sebuah mobil listrik.

Eko mengatakan, ketika konsumen melihat baterai tetap tahan lama dalam pemakaian jangka panjang, persepsi nilai akan terbentuk dengan sendirinya. Karena itu, kekhawatiran soal degradasi baterai menjadi salah satu faktor utama dalam pembahasan resale value.

MG sendiri mengaku optimistis dengan ketahanan baterai pada mobil listriknya. Optimisme itu didasarkan pada data penggunaan nyata dari MG4 EV yang menunjukkan battery health setelah 10 tahun masih berada di kisaran 88-90 persen.

Kepercayaan Pembeli dan Ekosistem Ikut Berperan

Bagi calon pembeli mobil bekas, data seperti itu penting karena membantu memberi gambaran yang lebih jelas tentang kondisi kendaraan. Semakin mudah kondisi baterai dipahami, semakin objektif pula penilaian terhadap harga mobil listrik bekas.

MG melihat nilai jual kembali tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi saat mobil masih baru. Kepercayaan pembeli di pasar sekunder ikut menentukan seberapa kuat sebuah model bertahan dalam nilai jualnya.

Perusahaan juga menilai ekosistem kendaraan listrik punya pengaruh besar terhadap resale value. Semakin besar populasi mobil listrik dan semakin kuat tingkat adopsinya, pasar bekas dinilai bisa menjadi lebih sehat dan lebih aktif.

Dukungan Purna Jual Masih Menjadi Pertimbangan

Selain produk dan baterai, layanan purna jual tetap masuk daftar penentu utama. Jaringan servis, kualitas dukungan merek, dan kemudahan penanganan kendaraan ikut memengaruhi keyakinan pembeli mobil listrik bekas.

MG memandang persaingan kendaraan listrik tidak berhenti pada penjualan unit baru. Kekuatan merek setelah mobil dipakai beberapa tahun juga ikut menentukan sejauh mana nilai kendaraan itu bertahan di pasar sekunder.

Isu garansi dan kebijakan merek turut membayangi pasar. Strategi sebagian pabrikan yang memberi harga khusus pada unit awal atau membatasi garansi saat mobil berpindah tangan ikut membentuk persepsi konsumen.

Selama persepsi pasar belum benar-benar mapan, harga mobil listrik bekas diperkirakan masih akan peka terhadap umur baterai, kebijakan garansi, dan dukungan purna jual. Di tahap ini, battery health, keberlanjutan garansi, populasi kendaraan, dan jaringan servis menjadi faktor yang makin diperhatikan calon pembeli.

Source: kabaroto.com

Baca Juga

Back to top button