Awal Mei 2026 Memuncak, Jabar Diserbu 749 Ribu Sambaran Petir Dalam Sebulan

Sebaran sambaran petir di Jawa Barat selama Mei 2026 tidak hanya tinggi, tetapi juga sangat terkonsentrasi pada wilayah tertentu. Dari pemetaan spasial dan digital yang dilakukan tim teknis Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, tiga daerah yang paling rawan adalah Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sumedang.

Temuan itu menegaskan bahwa risiko petir di Jawa Barat tidak merata. Di tengah lonjakan aktivitas kelistrikan udara sepanjang bulan, perhatian utama justru tertuju pada wilayah yang tercatat paling sering menerima sambaran.

BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mencatat total 749.423 kejadian sambaran petir di Jawa Barat dan sekitarnya selama Mei 2026. Jumlah itu menunjukkan atmosfer di wilayah barat Pulau Jawa sempat berada dalam fase kelistrikan udara yang sangat aktif pada awal bulan.

Plt Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, menyebut pekan pertama Mei 2026 sebagai periode paling aktif. Pada fase tersebut, sambaran petir Cloud-to-Ground negatif tercatat 296.999 kali, sedangkan Cloud-to-Ground positif mencapai 154.397 kejadian.

Jika digabungkan, total sambaran petir pada pekan pertama menembus 451.378 kejadian. Angka itu menjadi porsi terbesar dari seluruh aktivitas petir yang terpantau selama Mei 2026.

Setelah lonjakan awal itu, aktivitas petir bergerak turun bertahap. Menjelang pekan keempat atau akhir Mei 2026, BMKG mencatat tidak ada kejadian sambaran petir sama sekali.

Edi menegaskan perbedaan antara awal dan akhir bulan berlangsung sangat tajam. “Pekan pertama Mei 2026 menjadi yang paling banyak kejadian, yaitu 451.378 kali. Sedangkan, terendah itu pada akhir Mei 2026, nol kejadian,” ujarnya.

Perubahan cepat ini sejalan dengan masa transisi cuaca yang memicu pembentukan awan konvektif secara cepat. Kondisi tersebut membuat aktivitas listrik di atmosfer dapat melonjak dalam waktu singkat, lalu mereda drastis pada fase berikutnya.

Di sisi lain, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum tervalidasi. Saat awan hitam tebal mulai menutup langit, warga diminta segera mencari perlindungan di dalam bangunan yang aman.

BMKG juga mengimbau masyarakat menjauhi pohon tinggi dan jaringan tiang listrik ketika cuaca menunjukkan tanda-tanda potensi petir. Langkah itu dinilai penting untuk menekan risiko saat aktivitas kelistrikan udara meningkat di wilayah yang rawan.

Source: www.harapanrakyat.com

Baca Juga

Back to top button