Tekanan terhadap IHSG tidak hanya datang dari satu sisi, melainkan dari dua kelompok saham besar yang sama-sama melemah. Saham konglomerat dan bank berkapitalisasi besar menjadi penahan utama laju indeks, sehingga IHSG akhirnya ditutup turun 0,32 persen ke level 7.106,52 setelah sempat berada di zona hijau pada awal perdagangan.
Pergerakan itu memperlihatkan betapa rapuhnya sentimen pasar ketika saham-saham unggulan bergeser serentak ke area koreksi. Dalam sepekan terakhir, IHSG sudah turun 6,42 persen dengan total transaksi mencapai 33,17 miliar saham senilai Rp 16,57 triliun.
Saham konglomerat jadi sumber tekanan
Pelemahan paling terasa datang dari emiten-emiten milik konglomerat. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA, yang berada di bawah Grup Sinar Mas, terkoreksi 8,66 persen ke Rp 1.845 per saham.
Pada saham ini, investor asing juga mencatat aksi jual bersih senilai Rp 12,78 miliar. Tekanan serupa ikut dirasakan saham milik Prajogo Pangestu yang kembali melemah di tengah kondisi pasar yang belum stabil.
PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 5,36 persen ke Rp 5.300 per saham. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 4,17 persen ke Rp 5.750 per saham dengan catatan net foreign sell Rp 4,16 miliar.
Sektor properti yang juga terkait kelompok konglomerasi belum mampu memberi dorongan berarti. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) milik kelompok usaha Aguan turun 0,59 persen ke Rp 8.450 per saham.
Bank besar ikut memperlemah indeks
Selain saham konglomerat, tekanan juga datang dari kelompok perbankan besar. Saham-saham bank pelat merah kompak melemah dan memperdalam penurunan IHSG pada akhir perdagangan.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat penurunan paling dalam di antara bank BUMN, yaitu 2,22 persen ke Rp 4.400 per saham. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyusul turun 1,43 persen ke Rp 1.380 per saham.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 1,33 persen ke Rp 3.720, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 0,65 persen menjadi Rp 3.050 per saham dari sebelumnya Rp 3.100. Tekanan juga menjalar ke bank besar lain, termasuk PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) yang turun 2,13 persen ke Rp 1.840 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 1,24 persen ke posisi Rp 5.975.
Arus keluar asing masih berlanjut
Pelemahan indeks makin berat karena investor asing masih mencatat arus jual bersih. Sepanjang tahun berjalan, IHSG membukukan net foreign sell sebesar Rp 42,81 triliun.
Kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak berdiri pada satu sektor saja, melainkan datang bersamaan dari saham konglomerat, bank besar, dan keluarnya dana asing. Meski nilai transaksi masih tinggi, arah pergerakan justru menunjukkan pasar lebih banyak mengambil sikap hati-hati terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Dalam situasi seperti ini, IHSG menjadi lebih mudah berfluktuasi saat sentimen pada emiten unggulan berubah. Selama arus jual asing belum mereda, pergerakan indeks masih akan sangat bergantung pada kekuatan saham-saham besar yang selama ini menjadi penopang utama pasar.





