Asia Mencari Pegangan Keamanan Baru, Bayang Perang Iran Dan Taiwan Membayangi Shangri-La

Di tengah sorotan terhadap perang Iran dan ketegangan seputar Taiwan, Shangri-La Dialogue di Singapura menjadi tempat Asia membaca seberapa jauh arah keamanan kawasan ini akan bergeser. Forum pertahanan terbesar di Asia itu mempertemukan pejabat tinggi militer, diplomat, analis, dan pembuat senjata dalam suasana yang tampak santai di luar, tetapi tajam di balik pintu tertutup.

Perhatian utama kali ini tertuju pada Washington. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth diperkirakan menjadi figur yang paling disimak saat ia berbicara di forum tersebut, di saat pemerintah Presiden Donald Trump masih kesulitan mengakhiri perang di Iran.

Situasi itu membuat banyak negara Asia ingin mengetahui apakah Amerika Serikat sedang terlalu terserap oleh konflik Timur Tengah. Mereka juga mencermati apakah Washington makin terdistraksi oleh gesekan dengan Eropa, termasuk penarikan pasukan dari Jerman.

Chong Ja Ian, ilmuwan politik dari National University of Singapore, menilai kekhawatiran tentang ketidakpastian kebijakan AS masih kuat. Ia mengatakan volatilitas Washington tetap menjadi perhatian karena berpengaruh langsung pada stabilitas kawasan.

Bagi Asia, perang Iran punya dampak yang terasa sangat luas. Konflik itu telah mengguncang ekonomi global, mendorong harga minyak naik tajam, menekan inflasi, dan mengganggu rantai pasok dari pupuk hingga pangan.

Tekanan tersebut terasa berat di Asia yang banyak bergantung pada impor. Kondisi ini membuat pasokan energi menjadi salah satu isu paling mendesak yang dibahas para delegasi, terutama karena perang ikut menekan jalur perdagangan penting.

Sorotan ke Hegseth dan sikap Washington

Kehadiran Hegseth datang ketika Trump pada Minggu mengatakan bahwa ia telah memerintahkan perwakilannya untuk tidak terburu-buru membuat kesepakatan dengan Iran. Pemerintahannya juga meredam harapan akan terobosan dalam konflik yang telah berlangsung tiga bulan itu.

Trump menulis di Truth Social bahwa blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku sampai tercapai kesepakatan yang disertifikasi dan ditandatangani. Iran secara efektif telah menutup selat itu sejak perang meletus pada 28 Februari.

Selat Hormuz menjadi titik yang sangat diperhatikan karena biasanya membawa sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global. Karena itu, setiap gangguan di jalur tersebut langsung memunculkan kekhawatiran baru di Asia dan pasar energi dunia.

China, Taiwan, dan pertanyaan yang belum terjawab

Selain Amerika Serikat, perhatian lain mengarah ke Beijing. Masih menjadi tanda tanya apakah China akan mengirim menteri pertahanannya setelah absen pada dialog tahun lalu, sebuah absensi yang sebelumnya memberi panggung lebih besar kepada Washington.

Kementerian pertahanan China belum memastikan apakah Menteri Pertahanan Dong Jun akan hadir atau pejabat lain akan ikut dikirim. Kementerian itu juga tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Isu Taiwan ikut menambah tensi forum. Setelah pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Trump awal bulan ini di Beijing, ketegangan soal Taiwan tetap meruncing, sementara China meningkatkan tekanan dengan menambah kehadiran militernya di sekitar pulau itu.

China mengklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya, sedangkan pemerintah di Taipei menolak klaim tersebut. Kondisi ini membuat Taiwan tetap siaga terhadap langkah lanjutan dari Beijing.

Bonnie Glaser dari German Marshall Fund memperkirakan Hegseth akan berhati-hati ketika membahas China setelah pertemuan itu. Ia juga menilai Hegseth kemungkinan akan mendorong sekutu dan mitra AS untuk mengeluarkan belanja pertahanan yang lebih besar.

Sumber atase militer asing menyebut delegasi China kemungkinan mendapat pertanyaan tajam soal apakah pembersihan korupsi besar-besaran terhadap para perwira senior berdampak pada kesiapan tempur militer China. Di ruang diskusi yang sama, peserta juga diperkirakan membahas cara negara-negara kecil menavigasi rivalitas AS-China.

Forum ini juga menjadi tempat membicarakan titik-titik panas maritim seperti Laut China Selatan dan Selat Malaka. Bagi banyak delegasi Asia, pertemuan di Singapura itu bukan sekadar forum formal, melainkan ruang untuk membaca dengan lebih jelas posisi Washington, Beijing, dan negara-negara kawasan di tengah ketegangan yang belum mereda.

Vietnam tampil dengan bobot yang lebih besar

Di tengah tarik-menarik dua kekuatan besar itu, Vietnam membawa dimensi tambahan. Perdana Menteri Vietnam To Lam dijadwalkan menyampaikan pidato utama pada Jumat malam dan dipandang akan menegaskan sikap netral Hanoi.

Vietnam terus memperdalam hubungan dengan Washington dan Beijing sekaligus mempertahankan klaim maritimnya terhadap China. Sebagai pemimpin partai komunis sekaligus presiden, To Lam kini disebut sebagai pemimpin Vietnam paling berkuasa dalam beberapa dekade.

Posisi itu membuatnya dipandang siap memainkan peran diplomatik yang lebih menonjol. Kehadirannya ikut menegaskan bahwa Shangri-La Dialogue tahun ini berlangsung dalam bayang-bayang perang, persaingan kekuatan besar, dan kekhawatiran yang terus membesar soal keamanan energi.

Baca Juga

Back to top button