Persaingan di quantum computing kini tidak lagi sekadar soal siapa yang paling cepat menambah jumlah qubit. Microsoft, IBM, dan Nvidia justru bergerak di bagian yang berbeda dari rantai nilai data center, sehingga pertarungan mereka lebih mirip perebutan fondasi teknis yang akan menentukan siapa paling siap dipakai secara nyata.
Bagi perusahaan enterprise, perubahan arah ini penting karena quantum belum bisa diperlakukan sebagai satu produk seragam. Ada yang mengejar lompatan fisika, ada yang memilih jalur bertahap, dan ada pula yang fokus pada lapisan penghubung agar quantum processor bisa bekerja berdampingan dengan CPU dan GPU.
Microsoft mengejar terobosan paling berisiko
Microsoft memilih jalur yang paling ambisius lewat chip Majorana 1 dengan arsitektur Topological Core. Chip ini memakai material yang disebut topoconductor untuk mengamati dan mengendalikan Majorana particles, dengan harapan topological qubits bisa jauh lebih tahan terhadap error perangkat keras.
Jika pendekatan itu berhasil, beban error correction dapat turun drastis. Microsoft bahkan menyebut arsitekturnya berpotensi memuat satu juta qubit dalam chip seukuran telapak tangan.
Perusahaan ini juga sedang menyiapkan prototipe fault-tolerant untuk fase akhir program DARPA Underexplored Systems for Utility-Scale Quantum Computing. Rancangannya diarahkan ke data center, dengan quantum processing unit yang diproyeksikan masuk ke rak server standar dan memakai daya sekitar 30 kilowatt.
Namun, pendekatan tersebut masih menyisakan keraguan. Klaim topological qubits belum sepenuhnya didukung riset peer-reviewed, dan paper Nature yang menyertai pengumuman Majorana 1 belum memberikan bukti definitif tentang Majorana zero modes.
IBM memilih jalur yang lebih bertahap
Berbeda dari Microsoft, IBM sudah lama menempuh roadmap publik untuk quantum processor sejak 2020. Fondasi yang dipakai adalah superconducting qubits, jenis qubit yang masih paling umum di industri saat ini.
Mesin terbarunya, Heron, memiliki 156 qubit dan menjadi pijakan untuk pengembangan berikutnya. Di atas perangkat keras itu, IBM membangun konsep quantum-centric supercomputing, yaitu model yang menghubungkan quantum processor dengan CPU dan GPU klasik dalam satu fabric komputasi.
Pendekatan itu sudah diuji di RIKEN, Jepang. IBM menjalankan Heron dalam closed-loop execution bersama supercomputer Fugaku, dan hasilnya disebut sebagai eksperimen kimia terbesar dan paling akurat yang pernah dilakukan di komputer kuantum.
IBM juga menyiapkan jalur yang lebih jelas menuju fault tolerance. Quantum Starling ditargetkan hadir pada 2029 di pusat data quantum baru di Poughkeepsie, New York, dan diperkirakan menjalankan 20.000 kali lebih banyak operasi dibanding komputer quantum saat ini.
Sistem itu akan menjalankan 100 juta quantum gate pada 200 logical qubits. Setelah itu, Blue Jay yang menyusul pada 2033 dirancang naik ke 2.000 qubits dengan satu miliar gate.
Nvidia masuk dari sisi penghubung
Nvidia tidak membangun quantum processor. Fokus perusahaan ini ada pada accelerated computing stacks yang membantu quantum computer bekerja, terutama pada dua titik yang sensitif: calibration dan error-correction decoding.
Pada April, Nvidia mengumumkan Ising, keluarga pertama open-source quantum AI models yang diklaim mampu menangani tuning qubit dan mempercepat pembacaan data error. Nvidia menyebut model decoding Ising bisa hingga 2,5 kali lebih cepat dan tiga kali lebih akurat dibanding pyMatching, standar open-source yang umum dipakai saat ini.
Lapisan lain datang lewat NVQLink, interconnect terbuka yang diumumkan pada Oktober 2025 untuk menghubungkan quantum processor dengan sistem GPU. NVQLink mendukung 17 pembuat hardware quantum, lima pembuat controller, dan sembilan laboratorium nasional AS.
Teknologi itu juga menawarkan 40 petaflops performa AI pada presisi FP4, throughput GPU-ke-QPU sebesar 400 gigabits per detik, dan latensi di bawah empat microseconds. Di pasar quantum, posisi Nvidia menjadi penting karena perusahaan ini mengunci peran sebagai penyambung antara dunia klasik dan kuantum.
Satu peta, tiga taruhan berbeda
Meski rutenya berbeda, ketiga perusahaan ini berangkat dari asumsi yang sama. Quantum processor tidak akan menggantikan komputer klasik, melainkan akan berjalan berdampingan dengan CPU dan GPU.
Dari sini, nilai ekonomi terbesar justru bisa bergeser ke lapisan penghubung dan sistem pendukungnya. Microsoft bertaruh pada terobosan fisika, IBM pada penyempurnaan yang sudah teruji, dan Nvidia pada kebutuhan akselerasi yang akan tetap relevan siapa pun yang unggul di hardware.
Bagi data center, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang pertama menambah qubit. Yang lebih menentukan adalah siapa yang paling kuat menguasai arsitektur yang membuat quantum computing benar-benar bisa dipakai dalam skala nyata.





