Arab Saudi datang ke Piala Dunia 2026 dengan identitas skuad yang sangat khas. Hampir seluruh pemain yang dipanggil berasal dari kompetisi domestik, dan hanya Saud Abdulhamid yang bermain di Eropa.
Komposisi ini langsung menegaskan besarnya pengaruh Saudi Pro League terhadap kekuatan The Green Falcons. Dari 26 pemain yang diumumkan, Al Hilal menjadi penyumbang terbanyak dengan enam nama.
Abdulhamid menjadi satu-satunya pengecualian di tengah daftar yang nyaris seluruhnya lokal. Bek sayap kanan berusia 26 tahun itu masih tercatat sebagai milik AS Roma, meski pada musim 2025/26 ia dipinjamkan ke RC Lens.
Selama membela Lens, Abdulhamid mencatat 25 penampilan di Ligue 1. Setelah masa peminjamannya selesai, ia akan kembali ke Roma dan masih terikat kontrak sampai musim panas 2028.
Di posisi penjaga gawang, Arab Saudi membawa Mohammed Al Owais dari Al Ula, Nawaf Al Aqidi dari Al Nassr, dan Ahmed Al Kassar dari Al Qadsiah. Kekuatan serupa juga terlihat di lini belakang yang diisi pemain-pemain domestik seperti Abdulelah Al Amri, Hassan Tambakti, Ali Lajami, dan Hassan Kadesh.
Lini tengah mereka bahkan tampak sangat padat dengan nama-nama yang akrab di liga dalam negeri. Daftar itu berisi Mohammed Kanno, Abdullah Al Khaibari, Ziyad Al Johani, Nasser Al Dawsari, Musab Al Juwayr, Alaa Al Hajji, Salem Al Dawsari, Khalid Al Ghannam, dan Ayman Yahya.
Pilihan di lini depan juga tidak keluar dari pola yang sama. Arab Saudi membawa Firas Al Buraikan, Saleh Al Shehri, dan Abdullah Al Hamdan untuk mengisi sektor penyerangan.
Selain Al Hilal, sejumlah klub domestik lain juga memberi kontribusi besar bagi skuad ini. Nama-nama dari Al Nassr, Al Ahli, Al Qadsiah, dan klub lokal lainnya turut mengisi banyak posisi penting di dalam tim.
Dengan susunan seperti itu, Arab Saudi akan menguji kekuatan skuadnya saat bersaing di Grup H. Mereka berada satu grup dengan Spanyol, Cape Verde, dan Uruguay, yang akan menjadi tantangan berat bagi tim dengan fondasi pemain lokal seperti ini.
Arab Saudi sendiri sudah tujuh kali tampil di Piala Dunia. Hasil terbaik mereka lahir pada debut 1994 ketika berhasil menembus babak 16 besar sebelum disingkirkan Swedia, sementara perjalanan setelah itu lebih sering berhenti di fase grup.
Kini perhatian tertuju pada bagaimana pasukan Georgios Donis menjawab tekanan di turnamen ini. Komposisi yang nyaris sepenuhnya lokal akan menjadi ujian nyata bagi stabilitas dan kedalaman tim saat menghadapi lawan-lawan besar.
Source: sport.detik.com




