Allbirds Tinggalkan Sepatu, Newbird AI Dibentuk Demi Menjadi Penyedia GPU Cloud

Perubahan arah besar sedang ditempuh Allbirds setelah bisnis alas kakinya terus berada di bawah tekanan. Merek yang dulu dikenal lewat sepatu sederhana dan ramah lingkungan itu kini bersiap meninggalkan identitas lamanya dan masuk ke bidang kecerdasan buatan melalui nama baru, Newbird AI.

Langkah ini menandai pergeseran yang jarang terjadi di kalangan merek konsumen. Alih-alih bertahan sepenuhnya pada lini sepatu yang membesarkan namanya, perusahaan memilih membuka jalur usaha baru di pasar komputasi AI yang sedang berkembang cepat.

Dari sorotan sepatu wol ke tekanan bisnis

Allbirds berdiri pada 2015 dan sempat mencuri perhatian lewat sepatu berbahan wol Merino. Produk itu membuat brand ini populer, termasuk di kalangan pekerja Silicon Valley yang menyukai desain sederhana, nyaman, dan memiliki citra ramah lingkungan.

Momentum itu sempat membawa Allbirds ke posisi yang sangat menarik di mata pasar. Saat melantai di bursa pada 2021, valuasi perusahaan mencapai 4 miliar dollar AS dan menempatkannya sebagai salah satu merek konsumen yang paling disorot pada waktu itu.

Namun, tenaga bisnis tersebut tidak bertahan lama. Popularitas Allbirds kemudian menurun, dan perusahaan ikut menutup banyak toko fisik untuk meredam tekanan operasional yang terus membesar.

Nama baru, model baru

Di bawah nama Newbird AI, perusahaan menyiapkan arah usaha yang berbeda jauh dari akar bisnisnya. Perubahan nama itu masih menunggu persetujuan pemegang saham pada Mei mendatang, sebelum benar-benar resmi digunakan.

Newbird AI juga telah mengamankan pendanaan konversi senilai 50 juta dollar AS atau setara Rp 858 miliar dari investor institusional. Dana itu akan dipakai untuk membeli unit pengolah grafis atau GPU, yang menjadi fondasi utama rencana bisnis barunya.

Perusahaan menyatakan akan bergerak dengan model GPU-as-a-Service atau GPUaaS. Skema ini memungkinkan layanan komputasi GPU berbasis cloud untuk kebutuhan AI, sehingga perusahaan bisa menawarkan akses daya komputasi tanpa harus bergantung pada model lama yang selama ini melemah.

Target pelanggan yang belum terlayani

Dalam penjelasannya, perusahaan menyebut akan memulai dengan akuisisi perangkat komputasi AI berkinerja tinggi dan berlatensi rendah. Setelah itu, akses akan diberikan melalui skema sewa jangka panjang kepada pelanggan yang membutuhkan layanan tersebut.

Strategi ini diarahkan untuk menjangkau segmen yang belum terlayani pasar spot maupun penyedia cloud besar atau hyperscaler. Dengan posisi itu, Newbird AI berharap bisa masuk ke ceruk komputasi AI yang lebih terintegrasi dan lebih spesifik kebutuhannya.

Perubahan yang memicu perdebatan

Pergeseran Allbirds ke arah AI memunculkan banyak pembicaraan di pasar. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut mencerminkan euforia korporasi terhadap AI, ketika perusahaan berusaha menempelkan narasi teknologi agar lebih menarik perhatian investor.

Fenomena semacam ini bukan hal baru. Pada akhir 1990-an, banyak perusahaan menambahkan akhiran “.com” untuk ikut menikmati ledakan internet, lalu pada 2010-an istilah blockchain juga dipakai dengan pola yang mirip.

Kekhawatiran soal gelembung spekulasi AI pun ikut menguat setelah pengumuman itu. Meski begitu, respons pasar langsung terlihat karena saham Allbirds dilaporkan melonjak lebih dari 420 persen hingga sesi perdagangan Rabu, 15 April 2026.

Pergerakan saham tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memberi ruang besar bagi narasi AI, terutama ketika dibarengi rencana usaha baru yang dianggap punya prospek. Di saat yang sama, perubahan Allbirds juga memperlihatkan betapa berat tekanan yang dialami merek konsumen ketika model bisnis lama kehilangan daya dorongnya.

Dari produsen sepatu berbahan wol Merino, Allbirds kini tengah memasuki fase yang sangat berbeda. Perusahaan itu mencoba membangun napas baru lewat Newbird AI, GPUaaS, dan layanan cloud AI di tengah perubahan besar pasar teknologi.

Baca Juga

Back to top button