ABS Dinilai Makin Mendesak Untuk Motor, Aturan Keselamatan Nasional Masih Belum Mengejar

Dorongan agar sepeda motor lebih aman di jalan kini kembali menguat seiring perhatian pemerintah terhadap teknologi pengereman anti-lock braking system atau ABS. Kementerian Perhubungan menilai fitur ini punya peran penting untuk membantu menekan kecelakaan, terutama di tengah kondisi lalu lintas yang padat dan tingginya keterlibatan motor dalam insiden jalan raya.

Sorotan terhadap ABS juga tidak lepas dari masih besarnya korban jiwa di jalan. Data yang dikutip dari Medcom menyebut rata-rata ada sekitar tiga korban jiwa setiap jam, dan sebagian besar korban berasal dari pengguna sepeda motor.

ABS dinilai relevan untuk situasi darurat

Di jalan yang padat, pengereman mendadak sering menjadi momen yang paling berisiko. Pada situasi seperti itu, ABS membantu roda tidak terkunci sehingga pengendara tetap punya peluang mempertahankan kendali atas motor.

Teknologi ini dipandang penting karena banyak kecelakaan serius berawal dari hilangnya kendali saat pengendara harus mengerem keras. Dengan begitu, ABS bukan sekadar fitur tambahan, melainkan alat bantu keselamatan yang bisa mengurangi potensi bahaya.

Harga naik, tapi manfaat keselamatan dianggap lebih besar

Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan, Yusuf Nugroho, menilai masyarakat pada dasarnya bisa menerima teknologi yang memberi manfaat nyata. Ia juga mengingatkan bahwa fitur keselamatan tambahan biasanya membuat nilai investasi kendaraan ikut meningkat.

“Semua fitur tambahan tersebut tentu berdampak pada peningkatan nilai investasi kendaraan. Namun, saya yakin masyarakat Indonesia cukup mudah diedukasi terkait manfaat teknologi untuk keselamatan,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa penerimaan konsumen ikut menentukan apakah teknologi seperti ABS akan dipilih secara luas. Karena itu, edukasi publik dianggap penting agar harga yang lebih tinggi tidak hanya dipandang sebagai beban, tetapi juga sebagai bagian dari perlindungan pengendara.

Regulasi nasional masih tertinggal dari standar global

Pembahasan soal ABS juga berkaitan dengan arah kebijakan keselamatan kendaraan di Indonesia. UN Regulation No. 78 telah merekomendasikan ABS sebagai acuan, tetapi penerapannya belum sepenuhnya masuk ke regulasi nasional.

Di kawasan, langkah yang lebih tegas sudah terlihat di negara tetangga. Malaysia mewajibkan fitur pengereman modern untuk motor baru berkapasitas 150 cc ke atas mulai 1 Januari 2025, sementara di Indonesia penerapannya masih bersifat opsional dan sangat dipengaruhi harga jual.

Kondisi tersebut membuat pembahasan keselamatan motor di Indonesia dinilai masih tertinggal dibanding beberapa negara lain. Padahal, tingginya risiko di jalan raya menunjukkan perlindungan tambahan semakin dibutuhkan.

Dorongan insentif agar fitur keselamatan lebih terjangkau

Pakar Transportasi ITB, R. Sony Sulaksono Wibowo, menilai Indonesia sebenarnya sudah siap secara teknis untuk mengadopsi standar keselamatan tersebut. Ia menyebut Indonesia telah meratifikasi standar internasional dan mengikuti skema ASEAN Mutual Recognition Arrangement.

Menurut Sony, hambatan utama justru berada pada kebijakan yang lebih konkret dari pemerintah. Ia mengusulkan adanya insentif agar produk dengan fitur keselamatan lengkap lebih mudah dijangkau konsumen.

“Bisa menyusun subsidi atau diskon bagi produk dengan komponen keamanan yang lengkap, ABS contohnya,” ujarnya.

Usulan itu menempatkan keselamatan sebagai bagian dari kebijakan publik, bukan hanya tanggung jawab produsen. Dengan dukungan yang tepat, teknologi keselamatan bisa lebih mudah masuk ke pasar tanpa membebani konsumen secara berlebihan.

Motor tetap paling rentan di jalan raya

Kondisi lalu lintas yang makin padat membuat sepeda motor tetap berada di posisi paling rentan. Di saat yang sama, motor masih menjadi kendaraan yang paling sering terlibat dalam insiden jalan raya.

Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, juga menilai motor adalah moda yang paling rentan sehingga membutuhkan perlindungan regulatif yang lebih konkret. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan di lapangan, karena pengguna roda dua menghadapi risiko tinggi setiap hari.

Pembahasan mengenai ABS akhirnya tidak hanya menyentuh soal teknologi kendaraan, tetapi juga soal arah perlindungan bagi jutaan pengendara motor. Di tengah tingginya angka kecelakaan, dorongan regulasi dan edukasi publik tetap menjadi dua unsur yang sama pentingnya untuk keselamatan berkendara.

Baca Juga

Back to top button